Ekspor Terumbu Karang Ke Eropa Sangat Prospektif

167
kompas.com

JAKARTA-Komoditi terumbu karang mestinya bukan sekedar aktifitas pembudidayaan semata. Namun bisa menjadi komoditas bisnis yang sangat prospektif. “Dari data sekitar 50 asosiasi yang terhimpun di Bali, total nilai ekspor mencapai Rp200 miliar,” kata anggota Komisi IV DPR RI Mahfuz Sidik dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Mantan Ketua Komisi I DPR ini mengakui aktivitas perdagangan terumbu karang untuk kebutuhan akuarium hias, sebagian besar ada di Bali. Upaya pembudidayaan terumbu karang ternyata memiliki potensi pasar ekspor yang luar biasa. “Apalagi, pasar Eropa menyerap hasil budi daya terumbu karang sangat besar,” tambahnya.

Mahfuz menilai mestinya potensi ini dikembangkan, maka berpotensi meningkatkan devisa. “Kalau ini bisa dikembangkan dan kemudian pemerintah mengambil kebijakan yang insentif, saya pikir ini peluang untuk peningkatan devisa,” terangnya.

Dikatakan Mahfuz, pembudidayaan terumbu karang juga menjadi cara lain untuk pelestarian habitat terumbu karang yang ada di Indonesia. Kendati ini masih skala kecil, tetapi mempunyai prospek yang besar, dengan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Oleh karena itu, lanjut Maffuz, KLHK perlu memberikan prioritas lebih kepada usaha pembudidayaan terumbu karang dan bersinergi dengan pelestarian habitat terumbu karang. “Jadi bukan saja bisa meningkatkan volume ekspor dan devisa negara, tapi juga kekhawatiran tentang rusak dan punahnya habitat terumbu karang bisa kita atasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali, Gede Suarjana menegaskan terumbu karang memiliki manfaat mampu menyerap Gas Rumah Kaca (GRK) yang kemudian mengasilkan CO2 atau zat kapur yang dapat mengurangi penyebab pemanasan global, selain itu untuk menjaga ekosistem didalam laut.
“Kalau mati, tidak akan bisa menyerap CO2, dan di samping itu keanekaragaman hayati kita pastinya berkurang,” ujarnya.

Suarjana meminta masyarakat tidak sembarangan membuang sampah atau limbah ke lingkungannya. Selain itu, para perusahaan pengelolah limbah juga harus memperhatikan hal tersebut.
“Saya juga menginginkan, para instansi yang menangani terumbu karang buatlah unit-unti percontohan atau pengelolaan terumbu karang yang baik.
Kemudian, dana-dana CSR (perusahaan) yang menggunakan pantai, buatlah terumbu karang (buatan). Kemudian pusat (Pemerintah) curahkan APBN-nya untuk membuat terumbu karang,” paparnya.

Suarjana, juga menyampaikan BLH Provinsi Bali sudah membuat karang buatan, yang bekerjasama dengan beberapa LSM Lingkungan Hidup. Namun, hanya ukuran kecil saja.
“Kami juga sudah membuat, tetapi masih ukurannya kecil. Banyak juga LSM yang sudah membuat tetapi percepatan dengan kerusakan itu lebih cepat kerusakan. Karena ini, ada pengaruh dari luar dan ada dari dalam,” pungkasnya. ***