Emanuel Dapa Loka Rilis Buku Baru ‘Petualangan Seorang Pilot’

Emanuel Dapa Loka Rilis Buku Baru ‘Petualangan Seorang Pilot’

72
0
BERBAGI
Emanuel Dapa Loka

Oleh: Nicolo Albergatti

Seorang wartawan dan penulis biografi, Emanuel Dapa Loka kembali meluncurkan buku terbarunya. Buku anyar Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) ini berjudul Petualangan Seorang Pilot, merupakan biografi Brigjen Ir. E.R. Situmorang. Peluncuran dilakukan di Menteng, Jakarta Pusat pada 30 Mei 2016, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-75 E.R. Situmorang.

Situmorang adalah seorang insinyur mesin lulusan ITB. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di perusaan minyak Stanvac di Sungai Gerong, Palembang. Ketika muncul program Wajib Militer, dia turut dalam program ini. Dari sini ia jatuh cinta pada dunia militer lalu meninggalkan pekerjaan yang memberikan gaji sepuluh kali lipat dari gaji ayahnya ketika itu lalu merintis karier di dunia militer. Dia pun mendapat kesempatan untuk disekolahkan menjadi pilot. Karena latar belakang di bidang mesin dan prestasinya dalam dunia penerbangan, ia kemudian tidak hanya menjadi pilot tapi juga menjadi test pilot.

Aneka ketegangan ia alami selama menjadi pilot. Dia pernah menerbangkan helikopter dari dari Bandung ke Papua Nugini bersama seorang rekannya. Mereka berganti-gantian setiap dua jam membawa helikopter tanpa radar itu. Karena tak memiliki radar, kemungkinan menabrak gunung di balik awan sangat mungkin. Tapi karena “keberuntungan” dan feeling yang tajam mereka lolos dalam perjalanan pergi pulang. Namun dalam perjalanan tersebut Situmorang harus bertarung dengan rasa kantuk yang menyerangnya, juga rasa takut jika terjadi kecelakaan. Untuk melawan rasa ngantuk, pilihan satu-satunya adalah Situmorang menggigit bibirnya sendiri sampai terluka dan berdarah. Jika terasa sakitnya, maka menurutnya rasa ngantuknya hilang sebab sudah berpintah ke rasa sakit di bibir. Ia juga pernah mengalami helikopter yang ia kemudikan jatuh dan hancur namun dia tidak terluka sedikit pun.

Situmorang juga adalah salah satu dari calon astronot yang akan mewakili Indonesia. Pada tahun 1983, dia lolos dari 260 peserta seleksi, sampai kemudian tinggal dua belas orang. Sebelas rekannya yang lain adalah Ir. Deslijati, Ir. Bambang Harimurti, Dr. Pratiwi Sudarmono, Ir. Susetyo, Ir. Rusly Ali Haliud, Ir. Miranti Abidin, dr. Salamun, Ir. Taufik Akbar, Ir. Sanggono P. Subroto, Ir. Linda Hilmawanti dan Jusuf M.K. eman

Karena keahliannya di bidang mesin dan tes pilot, Situmorang kemudian dikaryakan di IPTN yang kala itu dipimpin oleh BJ Habibie, rekan sealmamaternya di SMA Kristen Bandung. Dia pun berhasil mengangkat nama IPTN sebagai salah satu instansi tes pilot terbaik di dunia.

Bagi Situmorang, pencapaian-pencapaian yang ia raih hanya berkat kemurahan Tuhan. Betapa dia tidak katakan begitu? Sebagai anak kampung dari Siantar, oleh karena ekonomi keluarga yang tidak mengizinkan, dia hanya bercita-cita menjadi supir bus antara kota di Sumatera. Ketika masih kecil, dia terkagum-kagum dengan supir-supir dengan handuk merk Good Morning di leher dan makan sepuas-puasanya di warung tanpa terlihat membayar, padahal jatah makan mereka sudah diperhitungkan dengan jasa memampirkan para penumpang ke warung tersebut.

Setelah pensiun 1996, dia membaktikan diri dalam dunia pelayanan rohani. Dia memilih jalur pelayanan helikopter untuk membantu pemerintah dan para misonaris di Papua untuk menjangkau daerah-daerah tersulit di sana. Dia mengaku sangat mencintai negeri ini dan pelayanan kepada mereka yang termiskin dan pencil.