Enam Pertolongan Terlarang yang Jadi Pemicu Korupsi

9
Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Yanuar Nugroho

JAKARTA-Ada banyak perbuatan baik di dunia ini yang bisa kamu lakukan, termasuk memberi pertolongan. Namun di Indonesia, pertolongan bisa menjadi ceruk penghasilan bagi sebagaian orang yang memiliki kemampuan cerdik di atas rata-rata alias banyak “akal”.

Menurut Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Yanuar Nugroho, hal tersebut rentan dan bisa berdampak terjadi tindak korupsi di instansi terkait yang membiarkan perilaku suka mencari celah.

“Budaya ketimuran kita yang baik sering disalah artikan untuk mencari celah keuntungan,” uajr Yanuar.

Meminjam istilah di era digital yang sedang hits, orang banyak akal memiliki kemampuan monetize atau menguangkan  segala bentuk tindakannya, termasuk untuk memberikan pertolongan.

Monetize pertolongan ini banyak kita jumpai di berbagai instansi pemerintahan dalam soal urus-mengurus dokumen dan berbagai keperluan lainnya yang berujung pada tindakan korupsi.

Padahal itu semua bisa kita cegah sebaik-baiknya bila mengikuti teori dialektika Peter L. Berger yang mengatakan induvidu dan masyarakat dapat dipisahkan. Ini menunjukkan bahwa manusia tak perlu melibatkan orang lain dalam memanifestasikan kepentingannya.

Walaupun tolong-menolong itu penting, demi mencegah tindakan korupsi yang terjadi karena pertolongan, berikut jenis tolong-menolong yang harus kamu hindari:

  1. Tolong dibantu ya prosesnya

Kalimat “tolong dibantu ya prosesnya” sering kita dengar ketika seseorang yang usianya lebi tua, bergaya parlente, pakai kalung emas, dan sedang berdialog kepada staf sebuah instansi. Atau juga sering dijumpai saat membuat dokumen izin usaha di kelurahan. Biasanya segenggam amplop sudah dipersiapkan untuk melicinkan permintaannya.

  1. Tolong dicepatin ya

Paling kesel kalau sudah antre lama untuk dapat nomer antrian untuk paspor atau mau benerin nama di Dukcapil, terus ada orang bisik-bisik ke petugas minta tolong dicepetin atau didahulukan. Paling nyesek kenapa dia bisik-bisik ke petugas tapi suaranya kenceng dan terdengar kita yang ngantre sampai ngambil cuti kantor.

  1. Tolong diperlancar ya

Model minta tolong kaya gini sering dilakukan pengusaha dari kelas teri yang memohon kelurahan agar izin usahanya cepat keluar dan dilancarkan tanpa harus bolak balik urus dokumen. Biasanya mukanya agak memelas, tapi sudah disiapkan uang rokoknya.

  1. Tolong dilolosin ya

Nah, kalau sudah musim tahun ajaran baru di universitas negeri, ibu-ibu yang ambisius pasti sudah tiba di kampus tersebut jauh-jauh hari. Biasanya ibu ini cari tahu siapa pejabat kampusnya. Terus minta tolong dilolosin anaknya. Si oknum kampus ini biasanya minta nomer ujian, terus keluarlah notifikasi dari m-banking, transaksi yang Anda lakukan berhasil.

  1. Tolong bilangin komandanmu / atasanmu

Sering banget lihat tayangan di televisi tentang aksi kepolisian yang melakukan operasi. Terus orang yang bersalah makin galak sama petugas dan minta tolong kasih tahu komandannya si petugas seolah-olah dia akrab sama komandan dan petugas ciut. Faktor feodal dalam sistem instansi membuat level petugas mengikuti permintaan mereka karena takut dengan komandan atau atasan. Akhirnya di level ini, mereka sering meloloskan tindak korupsi.

  1. Tolong dimaklumi

Ini yang sering menjadi penyakit mental masyarakat yang tidak mau jujur atas kesalahan yang telah diperbuat. Namanya salah seharusnya tidak ada pemakluman. Indonesia negara hukum. Ga kebayang kalau semua koruptor minta tolong dimaklumi.