Eni : Butuh Investasi Besar Bangun Kilang BBM Euro IV

414

JAKARTA-Penyediaan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas Euro IV untuk kebutuhan dalam negeri diyakini sulit dipenuhi. Alasannya Indonesia tidak memiliki kilang minyak yang bisa memproduksi Euro IV. Kondisi tersebut sangat ironis di tengah konsumsi BBM dalam negeri yang terus meningkat. “BBM Euro IV sangat baik bagi lingkungan. Tapi di sisi lain penyediaan BBM Euro IV akan menjadi kendala,” kata anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Oleh karena itu, kata anggota Fraksi Golkar, Indonesia diperkirakan pada 2018 bisa mengimpor BBM hingga 100 persen. Impor BBM hingga 100 persen dilakukan karena adanya penerapan standardisasi BBM kualitas Euro IV. “Indonesia hingga kini tidak memiliki kilang yang dioperasikan oleh PT Pertamina (Persero) yang bisa memproduksi BBM kualitas Euro IV. Apalagi kilang swasta,” tambahnya

Legislator dari Dapil Jatim X, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O, mengharuskan kendaran bermesin bensin mulai menerapkan atau menggunakan BBM jenis Euro IV pada 2018, sedangkan jenis diesel baru berlaku pada 2021. “Kilang milik Pertamina saat ini masih sangat kesulitan untuk memproduksi BBM dengan kualitas Euro II, apalagi untuk memproduksi BBM kualitas Euro IV,” ungkapnya

Oleh karena itu, lanjut Eni, dibutuhkan investasi yang sangat besar untuk melakukan revitalisasi kilang milik Pertamina untuk ditingkatkan kualitasnya agar bisa memproduksi BBM kualitas Euro IV. “Namun kalau tidak segera dilakukan akan menjadi masalah ke depannya. Kalau saat ini belum bisa bangun kilang, semestinya kilang Pertamina harus di upgrade,” katanya.

Komentar Eni, semua pihak harus mendukung langkah Pertamina untuk melakukan revitalisasi kilang miliknya agar bisa sesuai standar Euro IV. “Apa yang dilakukan oleh direksi Pertamina saat ini soal revitalisasi kilang harus didukung penuh. Ini demi ketahanan energi nasional,” jelasnya.

Pendapat dia, sosok Rachmad Hardadi yang saat ini duduk sebagai direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia di Pertamina merupakan orang yang mumpuni soal kilang. “Program dia (Hardadi) sangat bagus soal revitalisasi kilang. Semua direksi di Pertamina semestinya mendukung program yang dicetuskan dia,” imbuhnya. ***