Fahri: Tinjau Ulang Perjanjian Dagang ACFTA

Fahri: Tinjau Ulang Perjanjian Dagang ACFTA

59
0
BERBAGI
kabaroke.com

JAKARTA-Masyarakat mendesak pemerintah bersikap tegas membatasi impor produk dari China karena impor tersebut dapat mematikan produsen lokal. “Meminta pemerintah meninjau ulang perjanjian perdagangan bebas dengan China (ASEAN China Free Trade Agreement/ACFTA), mengingat Indonesia mengalami kerugian,” kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam siaran pers, di Jakarta, Selasa (20/6/2017).

Selain itu, kata Fahri, DPR juga meminta pemerintah untuk bisa lebih tegas dan mengubah orientasi kerja sama Indonesia dengan Cina. Apalagi kerjasama selama ini cenderung timpang (sebagian besar produk ekspor Indonesia ke Cina adalah produk mentah. “Sementara Cina mengekspor bahan jadi yang nilai tambahnya lebih besar ke Indonesia),” ujarnya.

Lebih jauh Fahri meminta komitmen pemerintah untuk menerapkan kewajiban industri nasional untuk menyerap 30 persen serapan produk lokal dan lebih banyak memberikan insentif kepada produsen lokal agar bisa bersaing dengan produk dari Cina.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemdag) mencatat neraca perdagangan Indonesia dengan China mengalamai defisit. Kemudian disusul dengan negara Thailand, Australia, Perancis dan Korea Selatan. Defisit perdagangan dari lima negara ini terjadi di perdagangan nonmigas yang mencapai US$ 3,2 miliar.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, meskipun terjadi defisit perdagangan dengan negara-negara tersebut, tapi secara umum kinerja perdagangan Indonesia masih cukup positif. Ia bilang, kinerja perdagangan dengan India, Amerika Serikat, Filipina, Belanda dan Paskistan cukup baik. Negara-negara tersebut menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar selama perdagangan Januari-Februari 2017. Surplus perdagangan ini mencapai US$ 5 miliar.

Secara keseluruhan neraca perdagangan Februari 2017 membukukan surplus US$ 1,3 miliar. Jumlah tersebut ditopang surplus nonmigas US$ 2,5 miliar dengan defisit migas US$ 1,2 miliar. Surplus neraca perdagangan kumulatif selama Januari-Februari 2017 mencapai US$ 2,7 miliar. Posisi ini jauh lebih baik dibandingkan neraca perdagangan periode yang sama tahun 2016 yang hanya surplus US$ 1,1 miliar.

“Surplus neraca perdagangan selama Januari-Februari 2017 meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Kinerja perdagangan makin positif dan kita optimis tahun ini neraca perdagangan mencapai target,” ujarnya, Kamis (16/3).

Ekspor Februari 2017 mencapai US$ 12,6 milliar atau turun 6,2% dibanding bulan sebelumnya (MoM), namun masih meningkat 11,2% dibanding Februari 2016 . Adapun nilai kumulatif ekspor yang berhasil dibukukan pada periode Januari-Februari 2017 mencapai US$ 26,0 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia selama Januari-Februari 2017 ke beberapa negara mitra dagang masih menunjukkan performa positif. Beberapa negara yang berkontribusi terhadap peningkatan ekspor nonmigas pada periode tersebut yaitu RRT yang tumbuh 58,8%, India naik 76,4%, Filipina naik 57,3%, dan Federasi Rusia naik 94,6%.

Sementara itu, produk ekspor nonmigas Indonesia yang nilai ekspornya naik signifikan pada Januari-Februari 2017, antara lain besi dan baja naik 123,8%; bahan kimia organik naik 73,4%; minyak sawit naik 60,0%; berbagai produk kimia naik 67,4%; karet dan barang dari karet naik 59,6%; batu bara naik 42,5%; serta kopi, teh dan rempah naik 28,3%. Peningkatan nilai ekspor komoditas nonmigas yang relatif signifikan tersebut merupakan dampak kembali bersaingnya harga komoditas dunia.