Fahri : Tradisi Membaca Turun, Kemajuan Bangsa Terancam

990

JAKARTA-Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menjadi tantangan berat untuk mendorong tumbuhnya tradisi membaca pada masyarakat Indonesia. Karena itu perlu ada gerakan-gerakan dari kelompok membaca. “Dalam gadget kita sangat cepat masuk gambar-gambar dan chating-chating dengan kata-kata singkat, sehingga membuat malas masyarakat membaca,” kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam diskusi “Buku, Media dan Kinerja Wakil Rakyat” bersama IKAPI Jaya dan Perpustakaan MPR RI, di Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Hadir pula dalam diskusi tersebut Hikmat Kurnia dari IKAPI, Firdaus Oemar dari Yagemi, Tatty Elmir dari Forum Indonesia Muda (FIM) dan Relawan Perputakaan MPR RI.

Apalagi, menurut Fahri, sekarang ini masyarakat lebih banyak menonton ketimbang mengembangkan tradisi membaca. Sehingga hal ini menjadi ancaman kemajuan sebuah bangsa ke depan. “Makanya kita juga perlu mengembangkan tradisi jurnalisme yang lebih sehat dengan membangun tradisi membaca,” tambahnya.

Bukan hanya menurunnya tradisi membaca, kemajuan teknologi ini juga menggerus sejumlah industri dan toko buku, Fahri menggambarkan saat dirinya sedang ke Singapura. Dirinya selalu mampir mengunjungi sejumlah toko buku. “Saya lihat dulu ada dua toko buku, banyak yang sudah tutup. Begitu juga di Grand Indonesia, saya lihat tinggal satu toko,” terangnya.

Meski begitu, Fahri mengaku tetap bangga karena dirinya ikut mengesahkan UU Perbukuan. Meski kondisi sekarang tantangan perbukuan makin berat. “Yang penting, bagaimana industri perbukuan ini bisa tetap eksis,” tegasnya.

Diakui mantan Ketua KAMMI, soal tradisi membaca ini layaknya membaca kitab suci. Karena dalam Islam, disebutkan bahwa perintah pertama ini adalah membaca (Iqra). Dengan cara itu, kemudian menimbulkan tradisi berpikir dan membuat bangsa menemukan jalan terbaik. ***