Farial: Internal BI Lebih Berkompeten

75

JAKARTA- Direktur Currency Management Board, Farial Anwar  mengusulkan agar Gubernur Bank Indonesia (BI) berasal dari internal bank sentral.  Pasalnya, internal BI sangat paham betul isi perut BI sehingga tidak membutuhkan waktu penyesuaian lagi. “Kalau orang luar, butuh waktu belajar dan itu sudah nggak jamannya lagi,” ujar Farial di Jakarta, Rabu (20/2).

Seperti diketahui, Gubernur BI Darmin Nasution akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei mendatang.  Mengacu pada Undang-Undang BI, nama calon tersebut harus diserahkan ke DPR paling lambat tiga bulan sebelum berakhirnya masa jabatan gubernur BI. Artinya, DPR harus sudah menerima usulan presiden paling lambat 22 Februari 2013.

Saat ini,  sejumlah nama kandidat gubernur BI mulai muncul. Nama-nama itu antara lain Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, ekonom Raden Pardede, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro, serta Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu. Nama-nama yang beredar ini akan diseleksi menjadi tiga nama saja dan akan diajukan ke DPR pada 22 Februari mendatang. Bahkan, nama Darmin Nasution juga santer dikabarkan masuk kembali menjadi calon gubernur BI periode mendatang.

Namun Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis  mengaku tidak mengetahui nama-nama yang beredar tersebut. Dia pun enggan berkomentar terhadap isu tersebut.”Itu kan nama-nama yang muncul di lapangan, tapi kan tidak tahu sumbernya dari mana. Apakah valid atau tidak. Kalau saya tidak mau menebak-nebak,” sergah dia.

Farial mengaku, tidak memiliki jago yang menjadi gubernur BI. Namun, dia berharap agar Gubernur BI diambil dari figur yang teruji kompetensinya. “Halim Alamsyah itu orang yang sudah lama. Prestasinya cukup baik. Dia juga memahami masalah moneter. Karena Indonesia sedang menghadapi perekonomian global yang luar biasa bermasalah. Sehingga dibutuhkan figur yang betul-betul memahami masalah yang dihadapinya.

Bidang moneter kata dia merupakan bidang yang sangat penting karena berkaitan dengan nilai tukar, pengendalian uang beredar, pengendalian suku bunga, inflasi maupun kebijakan moneter lainnya. Jadi, saya melihat, lebih baik kalau pengganti Darmin diambil dari dalam BI.  Halim itu tipikal pekerja keras.  “Kalau saya disuruh memilih, saya pilih antara Darmin dan Halim. Tentu tergantung usulan dari Presiden SBY,” jelas dia.