Faktor Domestik Menekan Rupiah Sepekan

42

JAKARTA-Nilai tukar rupiah selama perdagangan sepekan cenderung melemah karena respon negatif pelaku pasar menyusul data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2013 yang masih belum membaik. “Rupiah melemah jika dibandingkan dengan minggu kedua lalu sebesar 0,6 persen,” ujar analis valas PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Jumat (17/5).

Menurut dia, pelemahan rupiah sepekan lebih banyak dipicu oleh faktor domestik. Terutama, kondisi neraca pembayaran pada kuartal I-2013 tercatat defisit sebesar 6,6 miliar dollar AS diatas angka defisit yang terjadi pada kuartal I-2012 sebesar 1 miliar dollar AS. Bahkan angka ini, memburuk dibandingkan kinerja pada  kuartal IV-2012 yang tercatat surplus 4,2 miliar dollar AS.

Dia menjelaskan, defisit ini berasal dari kedua  account pembentuk NPI, yaitu neraca transaksi berjalan dan neraca modal dan finansial. Transaksi berjalan juga mengalami defisit sebesar 5,3 miliar dollar AS dan neraca modal serta finansial defisit sebesar 1,4 miliar dollar AS. “Defisit neraca pembayaran itu membuat posisi cadangan devisa selama kuartal pertama 2013 turun menjadi 104,8 mililar dolar AS, tetapi kondisi itu masih cukup aman untuk membayar utang luar negeri pemerintah,” kata dia.

Selain itu kata dia, pelemahan rupiah juga disebabkan oleh ketidakjelaskan soal harga Bahan Bakar Minyak (BBM) “Permintaan valas oleh importir juga diproyeksikan masih akan tinggi,” kata dia

Dari eksternal jelas dia, rupiah melemah karena efek sentimen pelemahan mata uang yen. Yen Jepang telah menembus level psikologis diatas 100 per  dollar AS. “Yen Jepang telah melemah 15 persen  sepanjang tahun,” jelas dia.

Pelemahan Yen ini kata tidak hanya membawa sentimen pelemahan untuk rupiah tetapi juga melemahkan mata uang Asia lainnya terutama mata uang negara-negara eksporter competitor Jepang. “Won Korea  melemah 3,8 persen, dolar Taiwan melemah 2,57 persen, dolar Singapura melemah 1.35 persen,  Peso Filipina melemah 0,27 persen dan Dollar HongKong melemah 0,14 persen,” jelas dia.

Namun penjagaan ketat Bank Indonesia (BI) ditengah defisit pada neraca pembayaran cukup menopang rupiah sehingga rupiah tidak teperosok. “Kalau BI tidak melakukan intervensi, saya perkirakan rupiah bisa menembus 10.000 per dollar AS,” pungkas dia.