Forkoma PMKRI: Kerukunan Terwujud Jika Kita Satu Bangsa

Forkoma PMKRI: Kerukunan Terwujud Jika Kita Satu Bangsa

80
0
BERBAGI
ILustrasi: Menteri Agama, Lukman Saifuddin (kanan), saat bertemu Kepala Sekretariat Tahta Suci Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

PEKANBARU-Mewujudkan kerukunan antar umat beragama merupakan subtansi sikap Gereja Katolik yang termuat dalam Nostra Aetate, yakni dokumen independen yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II pada 1965. Hanya saja kerukunan itu baru dapat terwujud jika masing-masing individu menerima setiap insan pribadi manusia apa adanya karena merupakan konsekuensi logis dari prinsip bahwa semua bangsa merupakan satu komunitas dengan satu asal usul yang sama.

Demikian ditegaskan oleh Pastor Benedictus Manulang Pr, rohaniwan dari Pekanbaru kepada peserta Forum Group Discussion (FGD) yang berasal dari Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI RIAU), di Hotel Ameera, Pekanbaru, Riau, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/2).

Hadir dalam acara ini antara lain, Ruslan Tarigan (anggota DPRD Pekanbaru), Rahman Silaen (Hakim Tipikor Propinsi RIAU), Japantun Situmorang (Pengusaha), para aktivis PMKRI dan Pemuda Katolik.

Pernyataan Manulang tersebut terkait dengan peringatan ke-50 tahun dikeluarkannya dokumen Nostra Aetate oleh Tahta Suci. Dokumen tersebut yang berisi tentang penegasan serrta sikap hubungan antara Gereja Katolik dan NonKristiani. Nostra Aetate yang ditandatangani oleh Paus Paulus VI itu juga menandai keterbukaan Gereja Katolik dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama. “Kerukunan hanya bisa dicapai jika setiap individu adalah sama dan merupakan komunitas yang satu yakni bangsa dunia dan yang memiliki satu asal usul yang sama. Oleh karena itu, pada hakekatnya Nostra Aetate tidak hanya sekedar memandang positif hubungan Gereja Katolik dengan agama non kristiani, tapi lebih dari itu. Dengan dokumen itu, Gereja menerima setiap pribadi insan manusia apa adanya sebagai konsekuensi logis dari prinsip bahwa semua bangsa merupakan satu komunitas,” ujar Pastor Manulang.

Sementara itu, Ketua Forkoma PMKRI Riau, Thomson Manulang menjelaskan perlu melakukan sosialisasi konferensi international 50 tahun dokumen independen Nostra Aetate, karena relevansi atas perkembangan kehidupan kerukunan beragama di Indonesia.

Selain itu, Forkoma PMKRI Riau perlu mendapat masukan hasil konferensi internasional di Universitas Gregoriana, Roma, Italia yang secara khusus dihadiri oleh Ketua Umum Pusat Forkoma PMKRI, Hermawi Franziskus Taslim atas undangan Vatikan pada Oktober 2015. “Sosialisasi Nostra Aetate ini telah dilakukan oleh Forkoma PMKRI Daerah, termasuk di antaranya Jakarta, Medan dan Makasar. Menurut rencana sosialisasi ini akan dilanjutkan ke Banjarmasin, Palangkaraya dan Pontianak,” ujarnya Thomson Manulang.

Sementara itu, dalam paparannya Hermawi Taslim menegaskan, Nostra Aetate harus “dibumikan” oleh kelompok awam Katolik agar secara implementatif memang dapat mendukung dan membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia. “Nostra Aetate sangat sejalan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, setiap orang Katolik terpanggil dan harus memiliki semangat mewujudkan kerukunan umat beragama di masing-masing daerahnya. Bangsa Indonesia tanpa terkecuali mendapat anugerah negara yang begitu besar dan harus dipelihara melalui kerukunan para suku, umat ataupun kelompok,” ujar Hermawi Taslim.

Menurut Taslim, kerukunan umat beragama harus diwujudkan dalam bentuk nyata dan tidak hanya sekedar slogan semata. Paus Fransiskus sebagai contoh, Taslim menjelaskan, memerintahkan kepada gereja dan institusi Katolik di Eropa untuk menerima para imigran Timur Tengah yang merupakan korban perang saudara di negaranya. Dalam kesempatan itu di Roma pada Oktober 2015, Hermawi Taslim sempat mengadakan kunjungan ke tempat pengungsi imigran Timur Tengah di Roma, yang dikelola oleh lembaga Katolik.