Gara-Gara Hal Ini, Masyarakat Cinta Depok Anggap Depok Kota Intoleran

13

DEPOK-Masyarakat Cinta Depok mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Depok. Mereka meminta klarifikasi kepada DPRD terkait kebijakan Ledies Parking yang saat ini tengah viral.

Salah satu perwakilan masyarakat Cinta Depok, Antarini Arna mengatakan akhir-akhir ini banyak degradasi dan tindakan intoleransi di Kota Depok.

Menurutnya Depok yang dulu dengan saat ini sangat berbeda. “Tujuan kami datang yaitu kami ini kelompok warga cinta Depok. banyak akhir-akhir ini degradasi dan intoleransi di depok. Depok yang dulu enak, bisa ditinggal, multikultural ternyata punya ciri kota yang intoleran dan ada yang takut masuk Kota Depok,” jelasnya saat mendatangi gedung DPRD, Jumat (19/7).

Dijelaskan Antarin, kasus pemisahan parkir di RSUD menjadi contoh bahwa Depok mulai tidak bagus. Dan hal ini harus menjadi bahan bagi pemimpin Kota bahwa kalau itu dibiarkan akan menjadi kesergasi dimana-mana.

“Saya takut kesergasi seperti ini bisa terjadi dibioskop, nonton bioskop anda akan duduk beda dengan pacar begitu pun masuk Mall nanti jalanya beda dengan perempuan padahal mereka adalah keluarga contoh yah,” ungkapnya.

Menurutnya pemisahan antara laki dan perempuan tidak memiliki keuntungan bagi dirinya dan orang lain.” Nah pemisahan itu yang kita nggak mau, dan nggak ada untung nya buat laki dan perempuan dan buat siapa saja nggk ada untung nya,” ungkapnya.

Ia juga menyanggah kebijakan pemisahan antara laki dan perempuan harus disamakan dengan pemisahan kamar mandi perempuan dan laki dipisah. “Itu beda perkara. Itu sejarahnya di Inggris mulai 1997 ada sekelompok tentara yang minta itu dipisah. Jadi beda masalah kalau masalah di kamar mandi,” jelasnya.

Ia menuding bahwa kebijakan pemisahan tersebut sudah mengikuti budaya Arab. “Dan kalau kasus ini sudah masuk dan mengikuti ke budaya Arab. Arab sendiri sudah bergerak memordinanisasi diri tetapi Indonesia masuk pada era di arabkan. Mas pernah lihat nggak tangga di Sekolah laki dan perempuan dipisahkan,” ujarnya.

Menurutnya orientasi mahasiswa duduk nya dipisah antara laki dan perempuan bukan kebudayaan Indonesia.

“Melihat laki-laki dan perempuan itu harus sama dan punya suara yang sama. Laki-laki perempuan itu juga perkara yang meski dkuluturkan jangan takut laki dan perempuan duduk bareng,” imbuhnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Fraksi PDIP, Sahad Farida menjelaskan kedatangan masyarakat cinta Depok yaitu melaporkan terkait viralnya pemisahan parkir laki dan perempuan di RSUD.

“Mereka melaporkan firalnya masalah pemisahan parkir di RSUD jadi sebenarnya ingin melakukan koreksi bersama,” tuturnya.

Dijelaskan Sahad masyarakat cinta Depok menilai pemisahan parkir perempuan dan laki-laki sangat keliru. Sebab logika yang dibangun adalah dontrin perlindungan perempuan yang pada akhirnya tidak memberikan pilihan.

“Tidak bisa disamakan dengan ledies parking di pusat perbelanjaan atau pun pemisahan umum di KRL. yang sebenernya Juga Dishub punya pr karena belum ada proto taip parkiran yang harus di bangun di Kota Depok,” pungkasnya.