Gebrak Yogyakarta: Jangan Tinggalkan Anak Muda

41

YOGYAKARTA-Sejak dideklarasikan sebagai kampung wisata budaya pada awal September 2016, Langenastran menunjukan keunikannya.  Selain menggali potensi budaya yang ditinggalkan sebagai warisan para leluhurnya terutama karena letaknya berada di dalam wilayah Keraton Jogyakarta (Jeron Beteng), Langenastran juga seperti mengingatkan pentingnya anak muda ikut membangun sebuah cita-cita mulia. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya video di Youtube yang berjudul “Gileee… Langenastran !!! Dokumenter Kampung Langenastran Wisata Budaya Yogyakarta”-https://www.youtube.com/watch?v=KqTNhDve1LQ.

Munculnya video ini terkait dengan digelarnya “Batik&Batok Night” di Kampung Langenastran pada Sabtu sore, 15 Oktober 2016 yang akan dibuka isteri Wakil Gubernur Jogyakarta, GKBRAY. A Paku Alam X dan dihadiri oleh keluarga Kraton Yogyakarta,  serta para tokoh nasional termasuk Mantan Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Wakasad Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakri.
Humas Kampung Langenastran, DR Y. Sri Susilo SE, M.Si mengatakan, para sesepuh kampung menyadari pelestarian warisan budaya leluhur tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melibatkan anak muda.

Anak muda harus diberi kepercayaan untuk mulai belajar mengenal lingkungan sekitar terutama terkait dengan pemahaman tentang sejarah di mana keluarga mereka bertumbuh. “Oleh karena itu kami mempercayakan rekam warisan budaya kepada generasi muda yang rata-rata berusia 18 tahun. Dengan kepercayaan yang diberikan, anak muda Langenastran belajar untuk melihat, dan merekamnya menjadi suatu karya yang dapat didokumentasikan. Dokumentasi itu merupakan sejarah perjalanan hidup mereka juga,” ujar Susilo.

Oleh Susilo yang dosen FE Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini dijelaskan lebih lanjut bahwa, kepercayaan itu termasuk menyerahkan sepenuhnya cara pandang anak muda terhadap kampungnya dan terhadap sejarah budaya Indonesia.

Bersama dengan 11 temannya, Rian Nugroho yang merupakan warga Langenastran dipercaya untuk menggarap video untuk kepentingan promosi kampung wisata budaya Langenastran. Mereka adalah Rizky Yulianto, Risang Ksatria, Elian Hanif, Arif Triad, Veda Natalia, Istiana Meiranti, Lintang Muliana, Khaira Nova, Audita Arum, Ageng Prabowo dan Elrafiga. Kesebelas anak muda ini adalah teman sekampus yang masih semester satu. Rian juga mengajak Amalina Apriliasari dan Birgitta Arania sebagai talent (model). “Kami bukan siapa-siapa dan ini merupakan video kami yang pertama. Jangan bandingkan kami dengan mereka yang sudah professional. Namun karena kami diberi kepercayaan untuk membuat film dokumenter warisan budaya, suka tidak suka, kami juga perlu belajar mengenai banyak hal,” ujar Rian Nugroho yang bertindak sebagai sutradara.

Menurut pengakuan Rian, sekalipun ini bukan film dokumenter yang komersial, timnya yang bernama Play_On Production bersama-sama melakukan riset terlebih dahulu atas bangunan klasik yang akan dijadikan obyek pengambilan gambar.

Mereka juga studi mengenai sejarah kata “Langenastro” yang merupakan nama untuk pasukan “paspamres” Sultan Hamengkubuwon II. Belajar bersama mengenai bangunan klasik tempo dulu, demikian Rian menambahkan, kemudian membuka cakrawala baru tentang arti sebuah sejarah, budaya dan pelestarian.  “Ada bangunan tempo dulu yang terpelihara, ada bangunan yang  memiliki keistimewaan tiada dua, ada bangunan klasik tetapi biasa saja namun dulu tempat orang terkenal karena berjasa terhadap Kraton Jogyakarta. Hanya saya yang berasal dari Kampung Langenastran tetapi keterlibatan rekan satu tim kemudian membuat mereka juga melihat sesuatu tentang sejarah kampungnya,” ujarnya.

Rian mengaku bahwa hanya dirinya yang berasal dari Langenastran, Yogya dan sementara teman-teman lainnya berasal dari  Jogya, Temanggung, Ponorogo, Klaten, Purwokerto, Magelang, Boyolali. Selain di Youtube, hasil kerja satu minggu tim Play_On Production juga telah ditayangkan di videotron di beberapa titik di Jogyakarta termasuk, Malioboro, Jalan Brigjen Katamso dan Jogya Expo Center.