Gelaran IMF-World Bank Bisa Rem Perang Dagang AS-China?

14

JAKARTA-Pertemuan tahunan IMF-World Bank yang berlangsung di Bali mestinya bisa memberi “tekanan” kepada negara-negara besar, terutama negara-negara yang menguasai ekonomi dunia. Bahkan seharusnya juga bisa menghentikan perang dagang. “AS itu negara besar yang sedang gelisah. Trump seolah meyakinkan rakyatnya, bahwa kalau kita besar, maka tak bisa digoyang,” kata anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno dalam diskusi “Miliaran Dana Annual Meeting IMF Darimana?” di Jakarta, Kamis (11/10/2010).

Biasanya, kata Dosen FEUI, negara-negara yang gelisah itu kembali pada pegangan, alias doktrin lama. Karena itu untuk kembali membangkitkan jati dirin rasa percaya AS. “Padahal saat ini, mereka sedang krisis kepercayaan, karena nun jauh di sana ada negara yang cukup menakutkan, yakni China. Bahkan China malah menantang, mau perang dagang, saya layani. Begitupun dengan perang Valas, juga saya layani,” terangnya.

Tinggal satu yang belum terlontar oleh China, sambung anggota Fraksi PDIP, yakni perang nuklir. Karena saat ini China baru memiliki 2 kapal induk. Sementara AS sudah memiliki puluhan. “Disisi lain, Trump juga sedang pusing dan marah ke pejabat Bank Sentral AS (The Fed). Karena menaikkan suku bunga, sehingga dampaknya mengerek bunga obligasi. Masalahnya, banyak SUN dari AS yang dibeli perusahaan-perusahaan China,” tambahnya.

Dirinya, lanjut Hendrawan, baru mendengar bahwa pertemuan IMF dan World Bank (WB) sudah menghasilkan kesepakatan bisnis senilai Rp 35 triliun dari Rp 600 triliun yang ditawarkan untuk investasi di dunia. “Tentu kerja keras delegasi Indonesia dalam pertemuan itu harus dilakukan agar nilai investasinya lebih besar lagi. Sehingga akan lebih bermanfaat untuk rakyat,” tegasnya

Menurut Hendrawan, 189 negara yang tergabung termasuk Indonesia sulit akan meninggalkan IMF dan WB karena perusahaannya sudah menggurita di dunia. “Kantornya di Jakarta termasuk yang terbesar. Kantor itu banyak diisi oleh doktor-doktor dari Universitas Indonesia dan lain-lain,” ujar Ketua DPP PDIP.

Sementara Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan itu sendiri sudah diusulkan sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan ini berarti Indonesia dipercaya dunia dengan berbagai pertimbangan. Khususnya keamanan. “Jadi, salam kami kepada Pak SBY, yang telah mengusulkan Indonesia sebagai tuan rumah. Tapi, kalau beliau menghendaki audit anggaran pertemuan, silakan saja. Kan, sudah dilakukan dengan transparan. Biayanya sekitar Rp 500 miliar,” jelas Hendrawan lagi.

Karena itu, wajar utusan Demokrat dan PAN hadir dalam pertemuan itu. Hanya Gerindra dan PKS, yang sampai hari ini belum tampak dalam pertemuan IMF – WB tersebut. Hanya saja kata Hendrawan, salah kalau Indonesia bisa didekte oleh IMF dalam hal ekonomi. “Kita ini punya banyak ilmuwan handal kelas dunia. Seperti pemikiran ekonomi Bung Hatta, Bung Karno dan lain-lain. Jadi, konyol kalau Indonesia hanya akan mengikuti kemauan IMF,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah sudah melakukan berbagai penghematan. Dari efisiensi souvenir Rp 90 miliar, hiburan Rp 50 miliar, penjemputan dengan Mercedes 200 dan lain-lain. “Intinya spirit kehati-hatian dan penghematan sudah dilakukan. Termasuk DPR RI harus hemat bersama,” pungkasnya. ***eko