GKBRAy Paku Alam X Dorong Kampung-Kampung di Yogyakarta Ikuti Jejak Langenastran

34
Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAY). Adipati Paku Alam X

YOGYAKARTA-Isteri Wakil Gubernur DIY, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAY). Adipati Paku Alam X mendorong kampung-kampung di Yogyakarta untuk ikuti jejak Langenastran yang mendeklarasikan diri sebagai Kampung Wisata Budaya berdasarkan inisiatif masyarakatnya dengan menyelenggarakan festival-festival budaya berbasis pada kearifan lokal.

Dengan cara ini seperti ini, potensi budaya dan ekonomi kreatif di masing-masing kampung dapat diangkat sebagai obyek wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan domestik dan manca negara. “Saya bangga dengan kampung wisata budaya Langenastran, yang melakukan gerakan pelestarian warisan leluhur baik melalui upaya mereka sendiri. Pemerintah sama sekali tidak memberikan bantuan apapun atas penyelenggaraan festival Batik&Batok Night ini. Namun acara yang sangat meriah ini terselenggara karena kreativas dari masyarakatnya. Langenastran memang luar biasa. Saya mendorong kampung lain di Yogyakarta mengikuti jejak Langenastran ,” ujar GKBRAY A. Paku Alam X dalam pidato peresmian “Batik&Bathok Night” di NDalem Darajaten, Kampung Langenastran, seperti disampaikannya dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/10).

Pembukaan acara ditandai dengan guratan motif batik oleh GKBRAY A. Paku Alam X. Selain masyarakat setempat acara itu  dihadiri berbagai tamu dari Jerman, Kanada, Pangkalan Bun (Kalteng), Malang dan juga mantan Menhan Purnomo Yusgiantoro beserta isteri,  mantan Wakasad Letjen TNI (P) Kiki Syahnakri, Wakil Walikota Yogyakarta Imam Priyono, dan Wakil Ketua Badan Advokasi Hukum (BAHU) DPP Partai Nasdem Hermawi Taslim, dan Kepala Pengelola Pusat Perbelanjaan Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo.

Keterkejutan tentang penyelenggaraan festival “Batik&Bathok Night” di Langenastran juga diungkapkan oleh Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro.

Dia mengungkapkan, dalam bayangannya festival tersebut seperti bazaar batik dan kuliner yang memenuhi jalan Langenastran.  Namun bayangan itu tertepis ketika melihat suasana festival professional sepanjang jalan Langenastran Lor.  “Ini bukan sekedar bazaar tetapi benar-benar festival yang mengagumkan apalagi diselenggarakan hanya oleh sebuah Kampung. Saya sungguh terpesona dan akan mengajak Langenastran dalam  berbagai pameran batik internasional. Semangat berkebudayaan tersebut harus menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lain,” ujarnya yang juga pendiri Yayasan Purnomo Yusgiantoro yang bergerak di bidang budaya.

Sementara Kiki Syahnakri mengatakan, potensi budaya yang berangkat dari kekuatan nilai-nilai lokal adalah cara yang paling ampuh untuk melawan kekuatan asing yang ingin menghancurkannya. Apa yang dilakukan oleh Langenastran, demikian Kiki menjelaskan, menjadi contoh dari berbagai kampung di Indonesia untuk membangun jati diri Indonesia. Di akhir Sambutannya, Kiki menyatakan kekagumannya dengan yang dilakukan kampung Langenastran dalam memelihara budaya lokal.

Dalam sambutannya ketua penyelenggaran, KRT Radya Wisraya Sumartoyo, Yogyakarta menyimpan berbagai potensi yang mampu mendukung gelar Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Dengan festival bulanan ini, Paguyuban Masyarakat Kampung Langenastran secara bertahap namun pasti akan membangkitkan kekuatan ekonomi kreatif termasuk kuliner tradisional yang ada di daerahnya.

Acara Batik&Batok Night sangat meriah dan professional untuk ukuran sebuah Kampung yang baru sebulan mendeklarasikan diri sebagai Kampung Wisata Budaya.  Selain menyaksikan pameran batik koleksi Kadipaten Pakualaman dan kraton Yogyakarta, para tamu disungguhi tari Gemu Fa Mi Re asal Maumere yang dipersembahkan oleh Sanggar Kinanti Sekar, Yogyakarta dan Bregada Jemparingan (prajurit panahan) Langenastro. Acara ditutup dengan santap malam bersama untuk para tamu di bangsal Dalem Madukusuman.