Gus Solah : “Penyakit” Bangsa Ini Perlu Dicari

24

JAKARTA-Masyarakat kalangan bawah masih terpecah-pecah paska Pilkada DKI Jakarta. Bahkan antara sesama anak bangsa terjadi saling tidak percaya. Malah saling menyakiti dengan berbagai cara, termasuk persekusi. “Menunjukkan keterbelahan hingga ke bawah. Harus dilakukan sesuatu untuk menurunkan suhu sosial politik,” kata tokoh Nahdhlatul Ulama (NU) KH Salahudin Wahid dalam acara Curah Rasa dan Pendapat Para Tokoh Nasional ‘Refleksi Kebangsaan, Rawat Kebhinekaan Untuk Menjaga Keutuhan NKRI’ oleh MPR RI, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (13/6/2017)

Menurut cucu pendiri NU, gesekan antar kelompok masyarakat dirasa cukup kuat. Bahkan di lingkungan RT atau RW yang biasa guyub sekarang tidak saling akrab lagi. Terutama dengan adanya Pilkada DKI Jakarta. “Kalau sudah normal baru dicari sakit apa,” ujarnya

Menurut Gus Solah sapaan akrab Salahuddin Wahid, setelah 72 tahun merdeka, ternyata ada masalah belum selesai. “Kita harus cari tahu bersama, apa masalahnya. Blessing in disguise kita mengetahui masalah ini dalam masa tidak sulit,” tuturnya

Sementara itu, Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan mengungkapkan sesama anak bangsa harus saling mengasihi, menyayangi dan menghormati satu sama lainnya. Mestinya, perlu mengakhiri rasa kebencian dan permusuhan yang akhir akhir ini terasa. “MPR sebagai rumah rakyat didatangi kelompok Islam, merasa disakiti. Yang Kristen, Hindu, Budha juga cerita ke saya merasa disakiti. Ini bagaimana sesama saudara saling menyakiti?,” ungkapnya penuh tanya.

Diakui Ketua umum PAN, ada perasaan tidak nyaman dan ada nuansa kebencian, nuansa permusuhan di antara anak bangsa, apalagi pra dan pasca Pilkada DKI Jakarta.

Namun begitu, Zulkifli mengingatkan pesan Presiden RI Pertama, Soekarno, yang menyatakan Pancasila kalau diperas, intisarinya adalah gotong royong dan kasih sayang. “Semestinya, rakyat Indonesia semuanya saling mengasihi, saling menyayangi, saling menghargai dan menghormati,” katanya.

Zulkifli pun berharap, agar dialog kebangsaan tersebut memberikan sumbangsih solusi bagi persatuan bangsa Indonesia, memberikan dorongan agar rasa kebencian dan permusuhan menjadi hilang dan berakhir. “Dengan latar belakang itu, kami dan tokoh bangsa sepakat bahwa bangsa ini perlu diwadahi untuk berbicara terbuka, jujur, tanpa kebencian diantara elemen bangsa dan stakeholder lainnya di Republik Indonesia,” imbuhnya.

Hadir juga Wakil Ketua MPR RI EE. Mangindaan, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Wakil Presiden RI ke-6 Tri Sutrisno, Prof. Jimly Asshidiqie, Prof. Mahfud MD, serta Tokoh Lintas Agama dan Lintas Budaya. ***