Harga Emas Terus Melejit

44

JAKARTA-Harga emas dan 24 komoditas tercatat naik pada minggu lalu merespon pernyataan Bernanke yang mendukung berlanjutnya kebijakan stimulus the Fed. Kenaikan ini dikarenakan hedge fund dalam posisi ’cash’ dan bukan karena naiknya permintaan riil sambil menunggu kejelasan keputusan the Fed terhadap tapering  QE3 pada 18-19 September mendatang.  “Hedge fund global mulai memburu emas merespon pernyataan Bernanke yang mendukung kebijakan stimulus the Fed untuk beberapa waktu mendatang, seperti  yang disampaikan dalam pidatonya di Boston, AS (10/7),” ,” ujar Kepala Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Senin (15/7).

Dia mengatakan harga emas naik 5,4% pada minggu lalu tertinggi sejak 11 Oktober 2011. Begitupun indeks S&P GSCI Spot 24 komoditas juga mencatat kenaikan 1,7% mencapai level tertinggi dalam 3 bula n terakhir, sedangkan Bloomberg USD index melemah 1,6% terhadap 10 mata uang utama dunia. Namun demikian, kenaikan harga emas dan komoditas ini belum diikuti dengan meningkatnya permintaan riil ditengah ekonomi global yang masih lemah, tetapi lebih karena efek likuiditas yang saat ini dimiliki oleh para hedge fund yang dalam posisi cash menunggu kejelasan keputusan the Fed terhadap kebijakan penguranganQE3 pada FOMC 18-19 September mendatang.

Sementara itu kata dia, pertumbuhan uang beredar Cina pada bulan Juni turun menjadi 14%yoy dari 15,8%  mom pada Mei, dampak kebijakan perlambatan pertumbuhan kredit. Kebijakan tersebut juga mengurangi aktivitas dari shadow banking, institusi pemberi kredit bukan bank yang tumbuh pesat di Cina.

Akibat perlambatan ini ekonomi Cina Q2-2013 – akan diumumkan hari ini (15/7), diperkirakan tumbuh 7,5%, dibawah pertumbuhan Q1-2013 7,7%. Bahkan Menteri Keuangan Cina memperkirakan ekonomi Cina 2013 tumbuh dikisaran antara 6,5%-7% dalam pernyataannya di AS 11 Juli lalu. Penurunan ini terlihat dari turunnya ekspor dan produksi dari industri menufaktur. Namun cadangan devisa justru meningkat menjadi US$3,5 triliun pada Juni dari US$3,44 triliun pada Maret 2013.