Hati-Hati Merawat Kemajemukan Indonesia

29

JAKARTA-Masyarakat diminta hati-hati terutama menjaga Indonesia yang majemuk ini sebagai keajaiban Allah SWT. Bahwa Ahok memang salah karena buruk dalam memilih diksi atau kosa-kata dalam berucap surat Almaidah 51 dan itulah kelemahannya. “Memang tidak ada yang sempurna dalam setiap orang, untuk itu pula tidak ada yang perlu dibela,” kata Direktur Eksekutif IndoBarometer Mohammad Qodari dalam dialektika demokrasi ‘Siapa Aktor Demo 411’ bersama Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Jakarta, Selasa (8/11/2016).

Qodari mengungkapkan menanyakan Jokowi bertemu NU dan Muhammadiyah. Hal itu karena sebagai ormas keagamaan terbesar tidak turun demo 411 tersebut. Sementara Fahri Hamzah satu mobil dengan Habib Rizieq, Haidar Nasir, Zaitun dan lain-lain. “Idealnya kalau tidak cocok dengan situasi, pimpinan DPR itu tetap satu mobil dengan Said Aqil Siradj dan Haidar Nasir,” katanya.

Yang pasti kata Qodari demo 411 tersebut membawa empat (4) kepentingan sekaligus; yaitu pertama, tersinggung dengan pernyataan Ahok terkait surat Almaidah 51. Kedua, kaum miskin kota yang terdampak akibat kebijakan Ahok di Jakarta. Ketiga, untuk jatuhkan elektabilitas Ahok dalam Pilkada. Apalagi Bachtiar Nasir selalu bilang Jokowi menciptakan pemimpin kafir di Solo, dan juga di Jakarta. “Habib Rizieq pun menyebut Wiranto menjadi Wiranti karena Hanura mengusung Ahok dalam Pilkada DKI,” tambahnya. Keempat, adalah kepentingan lawan-lawan politik Jokowi-JK agar elektabilitas pemerintahannya turun.

Khawatirnya lagi menurut Qodari, kalau kondisinya kritis dalam demo 411 tersebut bisa disusupi ISIS. Untuk itu dia meminta kita hati-hati dan tidak menyepelekan aksi-aksi besar yang bisa disusupi ISIS. “Kita harus belajar dari Timur Tengah. Kini Irak, Iran, Suriah, Mesir, Pakistan, Afghanistan, bahkan Saudi Arabia dan lain-lain dibuat hancur dengan ISIS. Penduduk negara tersebut mengungsi sampai tenggelam di laut, atau mati akibat bom dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menegaskan aksi demo 411 yang berakhir rusuh itu bukan ‘kudeta yang gagal’. Karena memang bukan untuk mengkudeta Presiden RI. Demo 411 itu hanya merupakan gerakan massa, yang marah karena pemerintah dianggap lambat dan cenderung melindungi kasus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama. “Jadi tidak benar kalau kudeta. Selama TNI tidak sepakat, maka tak ada yang namanya kudeta. Seperti di Thailand, Mesir, Turki, Philipina dan lain-lain. Maka, Presiden Jokowi jangan menggunakan terminologi Orde Baru. Demo 411 itu juga tak bisa yang menunggangi, sehingga kalau tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk menjatuhkan Presiden RI, maka jangan bilang ditunggangi,” tegasnya.

Sebaliknya Fahri menilai Presiden Jokowi yang ditunggangi, karena dalam proses hukum terhadap Ahok lambat. Tapi, pihaknya tidak akan menanggapi tuduhan tunggangan politik tersebut kalau belum definitif. “Kalau tuduhan itu definitif, baru saya akan tanggapi. Jangan sampai presiden menerima informasi dari sumber yang tidak jelas,” ujarnya.

Fahri pun mengakui sudah biasa menghadiri undangan demo dimana pun. Bahkan pernah diundang demo di Solo, NTB, dan Jakarta. Dalam demokrasi itu biasa. Prosedurnya diatur, maka kalau geger dengan demo 411 itu berarti pemain baru. “Siapa yang memulai? Jeda sebelum aksi itu cukup panjang karena Ahok tidak segera diproses hukum. Puncaknya eskalasi massa di 411, sampai MUI berfatwa. Jadi, negara dan agama harus dikelola secara harmoni,” tambahnya. ***