Hendardi: e-KTP Salah Satu Praktek Korupsi Terbesar Era SBY

Hendardi: e-KTP Salah Satu Praktek Korupsi Terbesar Era SBY

75
0
BERBAGI
ilustrasi e-KTP

JAKARTA-Ketua SETARA Institute, Hendardi menilai korupsi pengadaan KTP elektronik yang diduga melibatkan banyak aktor merupakan salah satu praktik korupsi terbesar yang terjadi pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY). “Orang-orang yang disebut dalam dakwaan sidang perdana Irman dan Sugiharto pada Kamis 9/3 lalu bahkan sebagiannya memegang posisi kunci di lembaga-lembaga pemerintahan saat ini,” ujar Hendardi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/3).

Akibat pengungkapan kasus tersebut ujar Hendardi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadapi pelemahan serius dari DPR melalui rencana revisi siluman UU KPK dan pengguliran hak angket.

Presiden Jokowi yang secara terbuka mengkritik proyek ini.

Namun kata Hendardi, Presiden tidak cukup hanya menjadi penonton pasif, tetapi harus memastikan dukungan terbuka pengungkapan praktik korupsi ini dengan cara menghentikan rencana revisi UU KPK.

Apalagi, Presiden memiliki kewenangan 50% membentuk UU dan mendorong partai-partai pendukung pemerintah untuk menolak revisi UU KPK dan pengguliran hak angket. Dijelaskannya, pengungkapan kasus ini bukan hanya pertaruhan keberpihakan presiden pada pemberantasan korupsi, tetapi juga pertaruhan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. “Gagalnya pengungkapan secara tuntas kasus E-KTP akan meruntuhkan martabat DPR dan Presiden di masa kini dan mendatang,” imbuhnya.

Menurutnya, ketidakpercayaan rakyat pada penyelenggara negara akan semakin menguat dan sulit dipulihkan. Karena itu semua pihak harus memberikan dukungan pada pengungkapan kasus tersebut.

Secara paralel tuturnya, KPK perlu mempercepat penanganan kasus dengan cara memeriksa dan menetapkan tersangka orang-orang yang  disebut dalam dakwaan, sehingga penyebutan nama-nama tersebut segera memperoleh klarifikasi. “Jangan beri ruang mereka yang nyata-nyata menikmati uang hasil korupsi melakukan klarifikasi dan konsolidasi untuk menyerang balik KPK sambil menolak keterlibatannya. KPK tidak perlu menunggu proses-proses persidangan untuk menetapkan tersangka baru, karena berlama-lama dalam menetapkan tersangka justru membuat KPK diduga berpolitik. Basis penetapan tersangka adalah bukti-bukti permulaan dari hasil pemeriksaan, jadi tidak relevan kalau KPK justru menanti terlalu lama proses persidangan,” pungkasnya.