Hendardi: Saol BIN, Panglima TNI ‘Off Side’

32
Ketua Setara Institute,Hendardi

JAKARTA-Ketua Setara Institute, Hendardi mengeritik pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tentang lemahnya kinerja Badan Intelijen Negara (BIN). Hal merupakan cerminan kontestasi antara lembaga intelijen negara yang  justru membuka ancaman baru karena mengumbar situasi dan kekuatan intelijen negara secara terbuka. “Tidak sepantasnya keluhan semacam itu disampaikan terbuka karena membahayakan pertahanan negara. TNI tidak boleh terus-menerus merasa lebih supreme atau kuasa atas segala hal karena Konstitusi dan peraturan perundang-undangan sudah mengatur tugas dan fungsi masing-masing lembaga negara, termasuk dalam soal intelijen,” ujar Hendardi dalam pesan singkatnya di Jakarta, Senin (10/10).

Sebagaimana diketahui, dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengungkapkan, dirinya sejak berpangkat Kolonel, BIN dan BAIS sudah tak pernah lagi menyampaikan rumusan tentang ancaman bangsa Indonesia. “Saya adalah orang yang sangat khawatir tentang kondisi negara kita. Khawatir karena secara tidak sengaja yang saya lakukan adalah protes terhadap hal-hal yang dilakukan pada saat saya masih kolonel. Sebuah negara harusnya punya rencana kontinjensi (cadangan),” ujar Gatot.

Bahkan, kata Gatot, tidak ada satu institusi pun di negeri ini yang menyampaikan ancaman bangsa ini. “Sampai sekarang. Harusnya yang merumuskan ancaman terhadap negara kan BIN,” ucap Gatot.

Menurut Hendardi, ide pembentukan  BIN adalah memusatkan segala informasi keluar dari satu pintu dan dikelola secara lebih akuntabel dibanding intelijen di masa lalu. “Jadi BIN adalah antitesis dari unit-unit intelijen di banyak institusi, terutama di TNI yang nyaris tidak bisa diakses, dikontrol, dan cenderung represif,” terangnya.

Dia menegaskan, intelijen di bawah BIN adalah cara untuk memaksa kinerja intelijen bekerja dengan cara-cara non militer. “Bagi saya, aspirasi Panglima TNI sudah off side dan menggenapi daftar keinginan buruk TNI yang sdh banyak dikemukakan di ruang publik untuk kembali mendominasi tugas keamanan termasuk kehendak untuk kembali berpolitik,” pungkasnya.