ICMI: Percepat Bantuan Untuk Korban Musibah Banjir Garut-Sumedang

50
Banjir Bandang Garut

JAKARTA-Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) meminta pemerintah mempercepat proses pengiriman bantuan bagi masyarakat yang menjadi korban terdampak banjir di Garut dan Sumedang, mengingat banyaknya jumlah warga yang membutuhkan pertolongan saat ini. “ICMI menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana yang terjadi di Garut dan Sumedang, Jawa Barat, Rabu (21 September 2016) dini hari. Kita berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) khususnya di Provinsi Jawa Barat dapat terus melakukan pencarian dan penyelamatan bagi para korban bencana alam tersebut sesegera mungkin,” ujar Sekretaris Jenderal ICMI Muhammad Jafar Hafsah di Jakarta, Kamis (22/9).

Dia meminta penanggulangan musibah ini dilakukan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Karena itu, semua pihak yang tergabung dalam Tim SAR dan juga tim penanganan pengungsi juga harus menyediakan fasilitas yang baik demi menghilangkan trauma dan kekhawatiran warga pasca musibah yang menimpa warga Garut-Sumedang. “Dengan jumlah pengungsi yang menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 1.000 orang, maka tindakan cepat dan segera mutlak dibutuhkan. Jika perlu, datangkan bantuan dari tempat lain agar pertolongan dapat efisien dilakukan,” kata Jafar.

Seperti diketahui, untuk saat ini seluruh warga yang terkena dampak saat ini sudah diungsikan beberapa tempat, yakni Markas Korem 06, apotek Wira Prima, Rumah Sakit Guntur dan posko Sekretaris Daerah.

Menurut BNPB, jumlah pengungsi diperkirakan akan terus bertambah meengingat banjir bandang tersebut memiliki skala yang besar.

Jafar menduga dahsyatnya banjir yang menerjang kawasan Garut-Sumedang akibat dari rusaknya hulu Sungai Cimanuk serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang tak mampu lagi menahan debit air hujan semalam. “Buruknya kondisi aliran hulu sungai tersebut sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Sehingga jika di kawasan tersebut diguyur hujan lebat maka akan ada banjir dan longsor, itu informasi yang saya terima,” terang Jafar.

Mengutip data dari Ketua BNPB, kerusakan hulu Sungai Cimanuk sudah terjadi cukup lama semenjak tahun 1980. Bahkan sempat dinyatakan sebagai daerah aliran sungai kritis sehingga jika terjadi hujan akan menimbulkan banjir dan longsor.  “Jika dibandingkan dengan sungai yang ada di Pulau Jawa, menurut BNPB ternyata DAS Cimanuk ada diurutan pertama yakni memiliki koefisien rezim sungai (KRS) paling buruk. Ini bisa dilihat dari indikator KRS perbandingan debit max dengan debit min. Jika ada di titik 40 KRS dikategorikan baik, kategori sedang ada dititik 40 hingga 80 KRS, dan kategori buruk lebih dari 80 KRS,” katanya.

Karena itu, Jafar berharap upaya rehabilitasi hulu Sungai Cimanuk harus segera dilakukan juga paska penanganan bencana banjir saat ini agar kejadian serupa tak terjadi lagi. “Jangan sampai, karena kerakusan manusia dalam mengeksploitasi alam meniadakan nilai-nilai kelestarian alam sehingga menimbulkan bencana yang merusak alam dan kehidupan manusia,” pungkas Jafar.

Seperti diketahui, banjir bandang menerjang daerah Bayongbong, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Banyuresmi, Karangpawitan, Kabupaten Garut, pada Rabu (21/9) pukul 01.00 WIB. Banjir terjadi akibat hujan deras sejak Selasa malam, yang menyebabkan air di Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri meluap. Ketinggian banjir mencapai ketinggian 1,5 meter hingga 2 meter dan memakan korban belasan jiwa meninggal dan puluhan lainnya dinyatakan hilang