IDR Masih Relatif Stabil

49

JAKARTA-Nilai tukar rupiah minggu pertama  Mei relatif stabil bergerak di kisaran antara Rp.9.730 s.d Rp.9.740 per USD kendati sempat mengalami tekanan dalam perdagangan harian ke Rp.9.71 per USD sebagai respon negatif menurunnya outlook Indonesia oleh Standard&Poor (S&P) dari positif menjadi stabil. Namun, penurunan rating ini tidak sampai melesat menembus Rp.9.800 per USD.  Karena itu, Minggu kedua ini diperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran yang masih stabil antara Rp.9.720 s.d Rp.9.740 per USD.

Analis valas PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan penurunan outlook ini diantaranya karena pemerintah Indonesia  dianggap lambat merespon dua risiko ekonomi saat ini yaitu risiko nilai tukar akibat defisit di neraca perdagangan dan defisit anggaran. Kedua defisit kembar tersebut (twin deficit) bersumber dari impor hasil minyak yang terus mencatat deficit yang semakin besar karena kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak domestic yang semakin tinggi. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi masih berlarut-larut dan malahan isu ini kembali di’lempar’ ke DPR untuk mendapatkan persetujuan revisi anggaran (APBN-P). Lambatnya pengambilan keputusan untuk kebijakan BBM ini membuat pemerintah kehilangan momentum dari kemungkinan ‘upgrade’ malah di’down-grade’. “Tidak hanya S&P,Moody’s juga memberikan peringatan agar pemerintah mengambil keputusan segera untuk mengatasi kedua risiko tersebut. Peringatan Moody’s ini terlihat belum mengganggu sentiment pasar khususnya terhadap nilai tukar rupiah,” jelas dia.

Dari dalam negeri, kata dia kepemilikan asing di SUN di bulan Mei masih relatif stabil, bahkan sempat mencapai tertinggi di Rp.299,66 triliun, tetapi kemudian turun Rp.0.74 triliun sebagai respon penurunan outlook S&P, menjadi Rp.298,92 triliun (3/5).

Posisi asing tersebut mencapai 34,2% dari total SUN yang beredar, level tertinggi yang pernah terjadi. Sementara itu dari pasar saham, dana asing yang masuk ke pasar saham masih mencatat neto beli.

Dalam seminggu terakhir tercatat neto beli sebesar US$609 juta, sehingga tercatat US$2,6 miliar ytd (6/5/2013) atau naik 101,5% yoy. Masuknya dana asing baik ke aset SUN maupun saham ditengah meningkatnya risiko ekonomi Indonesia akibat penurunan outlook mengindikasikan masih kuatnya likuiditas global. Selain pasar saham Indonesia, dana asing tersebut juga masuk ke pasar Jepang sebesar US$64,2 miliar ytd, ke India sebesar US$11,8 miliar ytd, ke Filipina sebesar US$1,37 miliar ytd, Taiwan sebesar US$2,45 miliar ytd. Sebaliknya dana asing tersebut keluar dari pasar Korea Selatan sebesar US$4,6 miliar ytd dan Thailand sebesar US$602,8 juta ytd. Ketidakpastian mengenai kebijakan BBM ini membuat imbal hasil di SUN terus naik. Ekspektasi ini membuat daya tarik masuknya dana asing tersebut. Untuk SUN 10 tahun, imbal hasil sudah turun sebesar 40,3 bps dari 5,190% menjadi 5.593%.