IDR Masih Undervalued Terhadap USD

57

JAKARTA-Nilai tukar IDR terhadap USD selama perdagangan satu minggu kebelakangan ini melemah. USD-IDR diperdagangkan di sekitaran 9750-9800, didorong dengan penguatan USD yang mendominasi pasar mata uang dunia. Menguatnya USD ini telah terjadi karena investor sendiri telah mengantisipasi bahwa bank sentral Fed akan segera mengakhiri program QE3nya di saat yang bersamaan di mana bank-bank sentral dunia lainnya masih terus menambah jumlah dana yang tersedia di program quantitative easingnya.  “Sebenarnya, kalau kita perhatikan pergerakan nilai mata uang di EM  Asia terhadap USD sejak akhir tahun 2012 lalu, pergerakan Rupiah tidak terlalu buruk,”  ujar analis  divisi Treasury Advisory  OCBC Gundy Cahyadi  di Jakarta, Selasa (21/5).

Rupiah tercatat menguat sekitar 0,20% terhadap USD, hanya lebih buruk setelah THB, CNY, dan MYR di EM Asia. Yang menjadi masalah adalah kenyataan bahwa Rupiah telah melemah lebih dari 7% di tahun 2012, jauh dari -3,5% yang dicatat Indian Rupee sementara semua mata uang EM Asia lainnya malah menguat terhadap USD. Oleh karena itu, memang pada kenyataannya, Rupiah masih mempunyai banyak ruang untuk melakukan “catch-up”.

Secara teori, kata dia Rupiah masih terkesan undervalued terhadap USD sebanyak kira-kira 10% di saat ini. Walau bagaimana pun, sentimen Rupiah di market masih terlihat sangat lemah karena adanya nada cemas tentang current account defisit di Indonesia, yang mungkin bersifat struktural. Dalam perkiraannya yang terbaru, IMF memprediksikan bahwa current account defisit akan terus terlihat di Indonesia untuk 5 tahun ke depan. Hal ini sendiri membuat investor sedikit ragu mengenai prospek Rupiah di jangka waktu medium, mengingat bahwa posisi current account merupakan salah satu ukuran fundamental yang sangat penting untuk trajektori nilai mata uang negara tertentu.