Ikan Bandeng Impor Masuk Indonesia

239
viva.co.id

JAKARTA-Pemerintah memasukkan dua jenis ikan masuk menjadi kebutuhan pokok pangan. Dua ikan itu antara, lain, kembung dan bandeng. “Sekarang ikan kembung dan bandeng dimasukkan dalam kebutuhan pokok pangan, terutama untuk peningkatan gizi protein. Harga ikan itu pun meningkat,” kata Pakar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria, di Jakarta, Rabu (2/9). 

Sayangnya, kata Arif, upaya pemerintah itu dilakukan karena ada gempuran pasar ikan dari luar negeri, antara lain ikan patin dari Pakistan, lele dari Thailand, dan bandeng Malaysia. Seharusnya impor itu tidak perlu terjadi, karena kita punya sumber daya alam yang lebih luas dari negara-negara tersebut. “Produksi ikan, kita rendah, sehingga harus impor dari negara asing. Di negara-negara tersebut bisa menjual ke luar negeri, karena produksinya melimpah,” ujarnya.
Itu merupakan salah satu gambaran, betapa negara ini tidak memperhatikan bagaimana memenuhi kebutuhan pangan dalam negari, padahal potensinya luar biasa besar. Negara ini terlalu tunduk dengan desakan dari luar negeri. Seperti belum lama ini, provinsi NTB bertekad berswasembada sapi, tapi Indonesia segera dilobi oleh Australia.
“Ya, setelah ada tekad provinsi NTB itu, kan datang utusan dari Australia, mereka meminta agar Indonesia tidak usah swasembada. Daging bisa dicukupi dari Australia. Negara itu kan memang punya kepentingan, produksi daging mereka sangat besar, dan perlu pasar,” katanya.
Urusan pangan ini, lanjutnya, pemimpin Indonesia sekarang tidak punya visi yang jauh ke depan bagaimana memenuhi kebutuhan seluruh rakyat. Kalau dulu anak SD diperkenalkan dengan padi varitas-varitas unggul, kini tidak ada lagi. “Dulu kan anak-anak SD tau semua itilah VUTW, varitas unggul tahan wereng. Sekarang, yang begini tidak ada. Kita juga tahu isi semua Repelita, sekarang kita tidak tahu apa yang terdapat dalam RPJM atau Rencana Pembangunan jangka Menengah,” ucapnya.
Sebenarnya, di kampus-kampus dan lembaga penelitian sudah banyak menghasilkan bibit-bibit tanaman unggul, hanya saja tidak ada tindak lanjut dari pemerintah dan pihak luar. Seperti di IPB, lanjutnya, sudah banyak kedelai varitas unggul, padi varitas tahan wereng, tapi belum ada sambutan.
“Yang kita butuhkan, ternyata tukang menjahit, ya menjahit untuk menghubungkan lembaga-lembaga penelitian ini dengan pemerintah dan lembaga-lembaga lain, supaya hasil penelitian itu bisa diaplikasikan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy menyatakan, saat ini yang ramai dibicarakan adalah mencari pilot negeri itu, mencari siapa presidennya. Tapi, PAN tidak ingin terlalu berfokus pada masalah tersebut. Menurut dia, Indonesia sangat dipengaruhi oleh masalah pangan. Kalau kebutuhan pangan rakyat tidak terpenuhi, negara bisa gawat.
“Yang paling kita butuhkan sekarang adalah menyiapkan rel untuk menuju masa depan. Kita harus bangun rel kedaulatan pangan yang kita tidak punya,” ujarnya.
Tjatur mengkritik para menteri yang berada di bawah Menko Perekonomian, karena mereka tidak fokus bekerja. Sehingga, pegnelolaan urusan pangan jadi kocar-kacir. “Ada yang sibuk konvensi capres, ada lagi yang sibuk dengan kasus dirinya,” pungkasnya. **cea