IKBS Jakarta Kembali Memberi Penghargaan

42

JAKARTA-Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) se-Jabodetabek akan kembali memberikan penghargaan kepada empat orang tokoh yang dinilai telah berkontribusi besar bagi pembangunan Sumba-NTT dalam berbagai bidang. Pemberian penghargaan tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan Natal dan Tahun Bersama IKBS pada 28 Januari 2017 di Cibubur.

Seperti dijelaskan oleh Ketua Panitia Letnal Kolonel Gerardus Maliti, pemberian penghargaan ini merupakan kelanjutan dari pemberian penghargaan serupa yang dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dua tahun lalu, juga dalam momentum Natal dan Tahun Baru bersama. “Kita mau menghargai upaya konkret dan bersungguh-sungguh yang telah mereka sumbangkan bagi pembangunan Sumba. Mereka telah memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki. Dan harapan kami, kemauan baik untuk saling mengapresiasi tumbuh subur di kalangan masyarakat Sumba, sebab dalam suasana saling menghargailah kita bisa membangun,” jelas Maliti.

Keempat penghargaan tersebut meliputi bidang politik, pendidikan, budaya dan kewirausahaan. Untuk keempat kategori tersebut, panitia telah menetapkan syarat, yakni sudah meninggal dunia dunia, memiliki track Record yang baik, patut diteladani, dan berkarya nyata secara konsisten.

Tentang pemberian penghargaan yang hanya untuk orang yang sudah meninggal dunia, Michael Umbu Zasa, salah satu inisiator menjelaskan bahwa ini sebagai apresiasi yang tinggi terhadap mereka yang mengabdi sampai akhir hayat. “Masyarakat kita, khususnya masyarakat Sumba memiliki penghormatan yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang sudah meninggal. Semoga teladan mereka ini menyusup ke sumsum dan hati orang yang masih hidup untuk bergerak juga melakukan sesuatu bagi Sumba. Ke depan, kami juga akan memberikan award kepada tokoh-tokoh yang masih hidup agar lebih bersemangat dan menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujar budayawan Sumba yang juga pemilik Sanggar Budaya Flobamora ini.

 

Pada Tiang Matahari

Untuk menyemarakkan perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama tersebut, panitia mengadakan Lomba Baca Puisi Pada Tiang Matahari karya Emanuel Dapa Loka. Siapa pun orang Sumba dan tinggal di mana pun bisa mengikuti lomba ini, cukup dengan mengirimkan video pembacaan puisi ke panitia. “Inilah lomba puisi yang bisa dikuti oleh orang Sumba sejagad, cukup dengan mengirimkan video yang merekam aksi mereka membaca puisi itu dan pemenang berhak mendapatkan hadiah uang dan sertifikat,” jelas Celestino Reda penanggung jawab lomba.

Puisi tersebut lahir dari pergumulan Emanuel Dapa Loka menyaksikan situasi yang berkembang di masyarakat. Ia prihatin atas sikap sebagian masyarakat yang memandang perbedaan sebagai penghambat hidup dan kemajuan bersama sebagai bangsa. “Selamanya kita akan tetap menjadi bangsa Indonesia dengan segala keberagaman yang ada. Kita lahir dan kuat sebagai bangsa karena keberagaman itu. Dalam perbedaan kita bersaudara dan yakin pada penyelenggaraan Tuhan. Dalam kerahimanNya, Tuhan pasti mendekap setiap kita tanpa terlebih dahulu menanyakan agama atau sukunya,” jelas wartawan dan penulis biografi ini.

Karena itu pada salah satu bagian puisinya ia menulis:

 

Di sini, di sudut negeri ini ada kami berdiri

Berdiri bersama Abdullah

Menggandeng tangan si Ucok

Sebantal dengan Siau Tjung

Memeluk Fransiskus

Sedegup jantung dengan Giyai

Bersandar pada pundak Made

Berbisik pada telinga Salampak

 

Ya, kami lahir dari rahim yang sama bernama Indonesia

Karenanya tak mungkin kami mencabik rahim

yang nyaris telah kehilangan darah dan nyawa

 

Kami pun tak mungkin dipisahkan hanya karena

Si Siti memanggil Tuhannya Allah

Si Yohanes menyebut Allahnya Yesus

Si Nyoman berseru kepada Hyang Widi Wase

Si Aseng  mengangkat-angkat dupa wanginya

Si Bili melafalkan Khaliknya Marapu dan seterusnya-seterusnya