Implementasi IEU CEPA Mampu Mewujudkan Agenda Nawacita

53
Mendag Thomas Lembong saat Menerima Kunjungan Menteri Perdagangan Perancis

JAKARTA-Menteri Perdagangan (Mendag), Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) optimistis perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) dapat segera dimulai. Diyakini, implementasi IEU CEPA mampu mewujudkan agenda prioritas pemerintah (Nawacita), yaitu meningkatnya produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, khususnya Eropa. Rencananya perundingan akan diluncurkan Presiden Joko Widodo, dalam kunjungan kerjanya ke Brussel, pada akhir April 2016.

Sebelumnya, Mendag Tom bersama Menteri Perindustrian Saleh Husin telah melakukan pertemuan dengan pihak Komisi Eropa guna membahas scoping paper IEU CEPA pada kunjungannya ke Brussel, 4-5 April 2016.

“Scoping paper IEU CEPA akan digunakan sebagai basis aspirasional untuk masuk ke tahapan perundingan IEU CEPA. Kami sepakat finalisasinya akan dipercepat dengan komunikasi pada tingkat tinggi yang lebih intensif agar perundingan dapat diluncurkan pada kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Brussel pada akhir April 2016,” ungkap Mendag Tom. Mendag  melakukan pertemuan dengan Komisioner Perdagangan Komisi Eropa Cecilia Malmström, (4/4).

Mendag Tom menyadari bahwa peran Indonesia dalam global/regional value chain masih perlu ditingkatkan seiring makin meningkatnya persaingan antarnegara dalam konteks global. Persaingan antarnegara tersebut dapat dilihat dari berkembangnya kerja sama di bidang perdagangan seperti Free Trade Agreement (FTA) dan Economic Partnership Agreement atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (EPA/CEPA). Berbagai kerangka kerja sama itu merupakan solusi atas lambatnya kemajuan perundingan Doha Development Agenda.

Mendag Tom memang ingin bergegas merampungkan perundingan IEU CEPA dan segera mengimplementasikan hasil-hasilnya. Indonesia perlu menjawab tantangan besar akibat menurunnya tren perdagangan Indonesia-Uni Eropa dalam lima tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 tahun terakhir (2011-2015) menunjukkan total nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa turun sekitar 5,4% per tahun. Hal itu berdampak pada penurunan surplus neraca perdagangan bagi Indonesia sebesar 14,5% per tahun pada periode waktu yang sama.  Sementara itu, pada 2015, nilai surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa hanya mencapai USD 3,5 miliar atau turun 16,7% dibandingkan nilai tahun sebelumnya yang mencapai USD 4,2 miliar.

Apalagi, ekspor Indonesia ke Uni Eropa masih didominasi produk primer pertanian seperti minyak kelapa sawit, karet alam, dan kopra. Sebaliknya produk impor Indonesia dari Uni Eropa didominasi produk-produk industri seperti permesinan, peralatan telekomunikasi, suku cadang pesawat terbang, dan obat-obatan.

Dari sisi penanaman modal asing, nilai realisasi investasi Uni Eropa di Indonesia juga cenderung menurun. Pada 2014, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia mencapai USD 3,8 miliar, dan turun menjadi USD 2,3 miliar pada 2015. Investasi Uni Eropa hanya menempati peringkat ke-4 terbesar bagi Indonesia.

Mendag Tom berharap IEU CEPA dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan akses pasar, fasilitasi, dan kerja sama ekonomi di bidang perdagangan barang dan jasa, investasi, serta lainnya. IEU CEPA juga diharapkan dapat mengedepankan prinsip saling menghormati, saling percaya, dan saling menguntungkan.  “IEU CEPA akan menjadi pendorong bagi peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar Uni Eropa serta meningkatkan peran Indonesia dalam global value chain,” tegas Mendag