Impor Bahan Baku Naik, Defisit Kuartal I/2019 Tak Mengkhawatirkan

15
kompas

TANGERANG- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku tidak mengkhawatirkan terhadap defisit neraca perdagangan pada kuartal I 2019 sebesar 193,4 juta dolar AS. Hal ini mengingat besarnya impor didominasi oleh bahan baku industri, yang artinya industri dalam negeri tengah menggeliat.

“Defisit yang pada kuartal pertama ini, yang sekali lagi kami tidak terlalu khawatir karena impornya lebih banyak bahan baku, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan industri ini meningkat,” kata Mendag Enggartiasto saat menghadiri Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD, Tangerang, Selasa, (16/4/2019).

Dengan situasi tersebut, lanjut Mendag, pertumbuhan industri meningkat baik dari sisi volume, kapasitas, maupun investasi baru, terutama industri yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus.

Dengan demikian, menurut Enggartiasto, defisit neraca perdagangan akan terjadi sesaat, namun akan meningkatkan ekspor di kemudian hari. “Karena yang didorong, selain infrastruktur juga banyak industri yang berorientasi ekspor,” ungkap Mendag.

Karena itu, industri akan menghasilkan barang yang mampu mensubtitusi barang impor, sekaligus berorientasi ekspor, yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap penurunan defisit neraca perdagangan.

Kemarin, salah satu pengusaha nasional Sofjan Wanandi mengharapkan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang dalam periode Maret 2019 mengalami surplus dapat berlanjut.

“Tentu kita senang, surplus menjadi sesuatu yang baik, perlu melanjutkan itu, sehingga defisit tidak membesar,” ujar Sofjan Wanandi ketika ditemui usai konferensi pers program “KlingKing Fun-Pesta Diskon Anti Golput”, di Jakarta, Senin, (15/4/2019).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 mengalami surplus 540 juta dolar AS, atau lebih tinggi dari posisi surplus Februari 2019 sebesar 330 juta dolar AS.

Namun pada periode Januari-Maret 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit 0,19 miliar dolar atau 190 juta dolar AS.

Menurut Sofjan Wanandi, surplus neraca perdagangan Maret tidak lepas dari pengaruh perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Situasi itu telah menyebabkan impor Indonesia mengalami penurunan, meski ekspor Indonesia cenderung meningkat. “Karena ‘trade war’, kita banyak ekspor, salah satunya ke Eropa,” katanya.

Namun, ia mengingatkan, memasuki bulan puasa dan Lebaran biasanya impor Indonesia terutama bahan baku akan meningkat, kondisi itu tentu dapat mengubah kinerja neraca perdagangan pada bulan berikutnya.

“Sebagai pengusaha, saya tentu akan meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi permintaan dalam negeri. Tapi saya percaya neraca perdagangan kita akan tetap terjaga,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sofjan Wanandi juga optimistis perekonomian nasional pada tahun ini masih terjaga di level lima persen di tengah perlambatan ekonomi global, melalui dukungan dari konsumsi rumah tangga.

“Kalau ekonomi tumbuh lima persen, itu masih oke. Tapi saya ingin tumbuh enam persen,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center Of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 58 persen terhadap ekonomi nasional, sekaligus menahan dampak negatif dari perlambatan ekonomi global.

“Konsumsi di dalam negeri cukup membantu dalam meredam guncangan eksternal. Namun, untuk jangka menengah dan panjang pertumbuhan ekonomi juga harus ditopang sektor lainnya seperti industri manufaktur agar lebih dari lima persen,” katanya. ***