Indonesia Diuntungkan Oleh Peningkatan Sentimen Risiko

30

JAKARTA-Deretan peristiwa dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa sebagian aset, surat utang negara berkembang dengan imbal hasil tinggi, berpeluang meraih kinerja baik dalam jangka pendek.

Kekhawatiran tentang kondisi ekonomi global terlalu dibesar-besarkan dan ada peluang memudarkan pesimisme ekstrem bahkan setelah perekonomian global membaik pada hari Jumat lalu.

Menurutnya, kurs dolar AS akan meningkat. Secara khusus, kontrak berjangka masih memperhitungkan kemungkinan kecil penurunan pada akhir 2019.

“Dengan kembalinya risk appetite, kami berpendapat bahwa pasar akan kembali mencerminkan 1-2 kenaikan untuk tahun ini. Terbuka juga peluang untuk peningkatan lebih jauh pada imbal hasil surat utang AS bertenor sepuluh tahun (saat ini 2,67%),” demikian dikutip dari laporan DBS Group Research yang berjudul Strategi Makro: Dorongan Menekan Pesimisme Ekstrem Terhadap Suku Bunga.

Rates Strategist dan Philip Wee, FX Strategist DBS, Eugene Leow menjelaskan di Asia, negara-negara yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi (India dan Indonesia) diuntungkan oleh peningkatan sentimen risiko.

Harga minyak yang tertekan dan dapat merasa lega oleh kenyataan bahwa Bank Sentral AS kemungkinan akan menghentikan kenaikan suku bunganya dalam beberapa bulan mendatang.

Surat utang pemerintah India telah menikmati kenaikan berarti.

“Setelah mempertimbangkan semua fakta, kami berpendapat bahwa surat utang dengan tenor lebih pendek akan lebih berhasil karena para pembuatan kebijakan telah menjadi lebih akomodatif di tengah pelonggaran inflasi mata uang dalam beberapa bulan terakhir (terbaru: 2,3% YoY pada November),” terangnya.

Argumen serupa dapat berlaku untuk Indonesia meskipun penguatannya belum terlalu tajam. Namun, karena lelang terakhir memberikan hasil kuat, ada peluang imbal hasil akan menurun dalam beberapa minggu mendatang karena kembalinya minat investor saat risk appetite membaik.

“Dengan mempertimbangkan berbagai fakta, kami memilih obligasi jangka pendek karena dalam pengamatan kami kurvanya masih relatif rendah untuk tenor hingga 3 tahun,” ulasnya.

Ada kemungkinan Cina akan mengerem aktivitas ekonominya bahkan jika perundingan dagang berakhir positif. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan rasio cadangan wajib (RRR) pada Jumat lalu hanyalah awal bagi pelonggaran tahun ini.

“Kami memperkirakan akan ada  putaran kedua penurunan RRR. Secara taktis, kami menikmati kurs CNY. Akan tetapi, mengingat rangkaian perundingan dagang antara Cina dan AS akan segera dilangsungkan, ada peluang untuk meraih tingkat lebih tinggi jika narasi perdagangan berubah menjadi tidak terlalu negatif,” imbuhnya.

“Kami berpandangan netral terhadap surat utang negara dengan imbal hasil lebih rendah (Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Thailand). Karena dolar AS meningkat, tekanan lebih besar akan lebih jelas untuk kurva surat utang negara ini,” pungkasnya.