Indonesia Harus Jalankan Sistem Politik Feminis

Indonesia Harus Jalankan Sistem Politik Feminis

0
BERBAGI
Phoro: Fuska Sani Evani (Moderator), Dian Wisdianawati M.Si. – Ketua Granita, Dra. Sri Sumijati M.Si (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang), Umilia Rokhani S.S, MA (Dosen ISI Yogyakarta ) dan DR. Hastanti Widhy Nugroho M.Hum (Dosen Fakultas Filasafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta).

JOGYAKARTA- Kegalauan dan kekacauan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terjadi karena Indonesia mempraktikan sistem nilai politik maskulin (kekuasaan). Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi bangsa yang tidak berkarakter, egois, autis, tak terawat, tak terpelihara, tak memiliki rasa peduli dan tumbuh dalam mindset persaingan. Oleh karenanya, untuk dapat menjadikan Indonesia sebagai Rumah Bersama, adalah penting menggantikan sistem nilai politik maskulin menjadi sistem nilai politik feminis (reproduksi).

Demikian kesimpulan dari seminar “Refleksi Hari Kartini: MERAWAT IBU BUMI INDONESIA”, di Jogyakarta (27/4).

Seminar ini menghadirkan sebagai pembicara Dian Wisdianawati M.Si. (Ketua Granita), Dra. Sri Sumijati M.Si (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang), Umilia Rokhani S.S, MA (Dosen ISI Yogyakarta ) dan DR. Hastanti Widhy Nugroho M.Hum (Dosen Fakultas Filasafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta).

Seminar yang dipandu Fuska Sani Evani (wartawan), diselenggarakan oleh Lembaga Laboratorium Bahasa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI), Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dan Gerakan Wanita Nusantara (Granita).

Sri Sumijati mengatakan jika dilihat dari karakter mahasiswa sekarang, para pemimpin bangsa seharusnya merasa prihatin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukannya, para mahasiswa dirasa kurang memiliki sopan santun tidak hanya dalam komunikasi tetapi juga berprilaku, bersifat hedonis, menginginkan segala sesuatunya serba instan dan asyik dengan dirinya sendiri.  “Perilaku para mahasiswa sekarang mirip anak autis yang mengedepankan sifat egois dan asyik dengan dirinya sendiri. Tidak ada alat bermain yang diminati para mahasiswa kecuali gadget. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan dunia di luar mereka. Untuk membaca pun mereka sulit sekali. Untuk mengatasi ketimpangan ini, seharusnya bapak dan ibu harus terlibat dalam dunia mereka,” ujar Sri Sumijati.

Namun demikian, Dian Wisdianawati mengatakan bahwa keterlibatan yang harmoni antara bapak dan ibu pada jaman sekarang sangat sulit dilakukan. Anak-anak jaman sekarang sulit mencari figur ayah atau ibu di dalam rumah mereka. Rumah hanya sekedar tempat istirahat dan bukan sebagai roh dari kehidupan mereka. Hal ini sangat mungkin terjadi karena, peran wanita yang seharusnya sebagai tulang rusuk diganti menjadi tulang punggung keluarga.

Jika menginginkan Indonesia sebagai Ibu Bumi yang memberikan kehidupan bagi rakyatnya, peran keluarga harus muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dan, ini hanya dapat dilakukan jika kodrat masing-masing muncul dalam sosok seorang ayah ataupun seorang ibu. Akan terjadi ketimpangan jika kodrat sebagai ayah atau ibu dirangkap salah satu pihak. “Jika Indonesia adalah sebuah keluarga besar, harus muncul sosok ayah dan ibu dalam tatanan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang mengalami  keseimbangan kehidupan ketika kita sebagai rakyat Indonesia dapat menunjukkan siapa Ibu Bumi yang memberikan kehidupan dan Bapa Angkasa yang memberikan udara untuk bernafas,” ujar Dian Wisdianawati.

Kekacauan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menurut Hastanti Widhy Nugroho terjadi karena Indonesia belum menjadi rumah bersama bagi semua agama, suku, ras, golongan ataupun kelompok.

Hal ini disebabkan karena sistem nilai politik yang digunakan berdasarkan politik maskulin yang melihat politik sebagai alat kekuasaan.  Mindset politik sebagai alat kekuasaan inilah yang kemudian memicu persaingan. “Seharusnya sistem nilai politik yang digunakan adalah sistem politik feminim (reproduksi). Sistem reproduksi manusia terjadi ketika seorang gadis mengalami menstruasi, hamil, melahirkan dan membesarkan anak. Dan masing-masing tahapan itulah yang menunjukkan bahwa sejarah kehidupan manusia itu dimulai dari wanita,” ujar Hastanti Widhy Nugroho.

Menurut Widhy, hidup matinya sebuah generasi bangsa sangat tergantung dari eksistensi para wanitanya. Sistem reproduksi itulah yang merupakan perbedaan kodrati antara pria dan wanita. Sehingga sistem reproduksi itu mempngaruhi cara berpikir dan bertindak “ala wanita” tentang bagaimana sakitnya haid, melahirkan, membesarkan anak dll. “Politik maskulin itu ujudnya adalah kekuasaan dan persaingan. Sementara politik reproduksi ujudnya adalah merawat, melahirkan, membina dan melindungi. Sejak haid pertama, wanita itu selalu dalam posisi memikirkan orang lain yakni memberi kehidupan, terutama ketika mulai hamil. Dan seharusnya, para politisi Indonesia  harus menggunakan materna thinking, berpikir secara seorang wanita,” tegas Widhy.

Hal yang senada juga diuraikan oleh Umilia Rokhani yang mengatakan bahwa ibu itu merupakan madrasah pertama jika boleh diibaratkan. Dan, tugas ibu secara kodrat tidak bisa digantikan oleh pria. Pola berpikir ibu atau wanita itu sangat berbeda sehingga substansinya harus dimengerti. Menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama hanya bisa terwujud ketika peran kaum wanita sebagai kodrat muncul dalam karakter dan sistem politik.