Indonesia Menjadi Target Utama Perang G-IV

Indonesia Menjadi Target Utama Perang G-IV

0
BERBAGI
Para pembicara (tiga tengah) seminar “MEA DAN PERANG GENERASI KEEMPAT”, STIE/ABA St. Pignatelli, Surakarta berfoto bersama, Kamis (28/4).

SOLO-Sebanyak 70% konflik dunia dilatarbelakangi oleh perebutan sumber-sumber energi yang kemudian berujung pada penguasaan atas sebuah negara secara ekonomi. Menyusul konflik energi, pada masa mendatang, konflik terfokuskan pada perebutan sumber-sumber pangan dan air.

Mantan WaKASAD, Letjend TNI (Purn) Kiki Syahnakri mengatakan negara-negara yang berada pada wilayah sekitar katulistiwa akan menjadi destinasi perebutan. “Konflik pangan dan air itu bersifat jangka panjang dan semuanya akan dimulai tanpa menggunakan kekuatan militer tetapi penghancuran ekonomi dan budaya,” ujar  Kiki Syahnakri, yang juga Ketua Jati Diri Bangsa dalam seminar bertajuk “MEA DAN PERANG GENERASI KE-IV” yang diselenggarakan STIE/ABA St. Pignatelli, Surakarta, di Solo, Kamis (28/4).

Hadir juga sebagai pembicara, Prof. Dr. Bambang Setiaji (Rektor Universitas Muhammadiyah, Surakarta), Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL  (Rektor Universitas Atma Jaya, Jogyakarta) dan seminar dipandu Agung PW (wartawan senior).

Pada tahun 2017 jelasnya, penduduk dunia berjumlah 8  miliar orang yang menyebabkan pangan dan air menjadi bahan langka. Krisis pangan dan air sebenarnya dimulai pada tahun 2011 ketika penduduk dunia berjumlah 7 (tujuh) miliar.

Oleh karena itu, konflik antar negara melebar dari energi ke bahan pangan dan air. “Untuk menguasai sebuah negara yang kaya sumber bahan pangan dan air, negara hegemoni termasuk AS dan Tiongkok, tidak lagi menggunakan perang konvensional berkekuatan militer, tetapi menggunakan kekuatan ekonomi dan penghancuran budaya atas sebuah negara destinasi konflik. Pada akhirnya secara ekonomi dan budaya negara destinasi konflik akan dikuasai,” jelas Kiki.

Kiki melihat, penghancuran budaya dan penguasaan atas ekonomi sebuah negara dimulai dengan berbagai cara yang pada akahirnya akan menghancurkan generasi muda, yang kelak akan menjadi pemimpin sebuah negara. Maraknya kasus narkoba, kekerasan, konflik horizontal, pornografi, LGBT, budaya baru, lahirnya isme-isme baru atau segala bentuk penyimpangan atas nilai-nilai luhur merupakan bentuk Perang Generasi Keempat (G-IV). “Indonesia sekarang sudah berada dalam Perang Generasi Keempat tanpa banyak generasi muda dan bangsa Indonesia menyadari. Perang ini tidak kasat mata dan sangat halus masuknya melalui ekonomi ataupun pengaruh budaya. Terlambat menyadari dan juga mengatisipasi akan menempatkan Indonesia yang kaya akan sumberdaya pangan dan air dikuasai oleh negara hegemoni,” ujarnya.

Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, yang hadir dalam seminar itu, mengatakan bahwa, Indonesia harus menjadi bangsa yang besar secara nyata dan bukan hanya sekedar berwujud slogan. Hanya saja kelemahannya adalah bangsa Indonesia tidak memiliki komitmen dan kesetiaan dalam meneruskan perjuangan, mimpi para pendiri negara, serta menjaga nilai-nilai luhur yang sudah diletakkan para leluhur. Menurutnya, jika bangsa Indonesia dan pemimpinnya memiliki komitmen dan kesetiaan, Indonesia akan keluar sebagai pemenanga Perang Generasi Keempat.

Seminar “MEA dan Perang Generasi Keempat” ini merupakan yang kedua menyusul pda bulan lalu STIE/ABA St. Pignatelli juga mengadakan seminar yang bertemakan “MEA dan Tantangan Dunia Pendidikan Indonesia”