Industri Manufaktur Tumbuh 5,49%

24
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto berbincang-bincang dengan Supply Chain and Procurement Director Garuda Food Johannes Setiadharma ketika mengunjungi stand Garuda Food pada Pameran Produk Industri Makanan dan Minuman di Plasa Pameran Industri, Jakarta, 10 Oktober 2017.

jAKARTA-Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut industri manufaktur nasional menggeliat setelah Badan Pusat Statistik melansir pertumbuhan industri non migas mencapai 5,49 persen pada kuartal III/2017 atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,77 persen. “Ya tentu itu membuktikan bahwa industri itu tumbuh dalam tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kontribusi terhadap ekspor 75 persen, kontribusi terhadap perpajakan juga terbesar, ini artinya sektor manufaktur menggeliat,” kata Airlangga usai menggelar pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta, Senin (6/11/2-17)

Selain itu, lanjutnya, sektor manufaktur juga berkontribusi terhadap ininvestasi sekaligus penyerapan tenaga kerja.

Namun demikian, Airlangga menyampaikan, terdapat berbagai hal yang masih perlu dibenahi, mulai dari rantai pasok, pengadaan bahan baku, energi, hingga pemberlakuan tarif yang berkaitan pada perdagangan.

“Pengadaan bahan baku menjadi catatan utama. Kemudian, hampir seluruh industri membutuhkan energi, baik listrik maupun gas. ini juga segera harus kita benahi. Selanjutnya, hampir seluruh industri tergantung perdagangan, di mana perdagangan itu tergantung pada tarif-tarif yang diberlakukan,” ujar Airlangga.

Dalam kesempatannya bertemu Kadin, Airlangga membahas berbagai hal yang mampu yang mampu mendukung industri nasional yang berkelanjutan, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Tentu implementasi dari SNI, karena beberapa industri mengharapkan SNI. Tapi, sebagian lagi menganggap itu tidak wajib. Kalau TKDN ya tergantung pada masing-masing penggunanya. Kemudian juga diangkat mengenai impor LPG yang cukup besar, di mana kita punya kemampuan untuk mengembangkan Dimetil Eter,” ujar Airlangga.