Industri Pariwisata Bali Sumbang Devisa Rp45 Triliun Pertahun

70
ilustrasi

DENPASAR-Industri pariwisata Bali memainkan peran yang cukup penting dalam perekonomian nasional. Karena devisa yang dihasilkan dari industri pariwisata Bali mencapai Rp45 Triliun pertahun. “Kontribusi ini cukup besar, karena wisman yang membawa dolar, kemudian membelanjakan dananya ke lokasi wisata,” kata Kadinas Tenaga Kerja Pemprov Bali Ketut Wija dalam diskusi “Menjaga Destinasi Bali dan Kearifan Lokal” di Hotel Ramadha, Bali, Sabtu (8/10/2016).

Menurut Ketut, devisa dari para wisman ini tidak langsung masuk ke kas negara. Namun tersebar pada sejumlah titik titik wisata. “Jadi kontribusi pariwisata Bali tak bisa dianggap remeh.
Oleh karena itu manusia Bali harus tetap perlu dijaga, jangan sampai dieksploitasi,” tambahnya.

Namun begitu, kata Ketut, melonjaknya jumlah wisatawan ke Bali justru menimbulkan masalah baru yaitu kemacetan di jalan-jalan menuju destinasi wisata di Pulau Dewata tersebut.

Lebih jauh Ketut menambahkan pembangunan jalan di Bali tidak mampu mengatasi pesatnya peningkatan jumlah kendaraan milik warga dan pengangkut wistawan yang ada.

Akibat kemacetan tersebut, sambung Ketut lagi, maka waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju destinasi wisata, menjadi lebih lama hingga tiga kali lipat.
“Dulu perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke Tanah Lot, tidak selama seperti sekarang ini. Sekarang ini tiga kali lipat lebih lama dibandingkan dulu,” jelasnya.

Dan kemacetan itu dimana-mana, di setiap jalan menuju tempat wisata. Para turis manca negara dan turis domestik yang mengalami jet lag, tentu tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. “Mereka minta paling lama perjalanan itu 45 menit, lebih dari itu terasa tak nyaman lagi,” tegasnya.

Ketut mengakui kemacetan ini dirasakan sangat mengganggu. “Selain itu ada juga penilaian dari turis mancanegara, bahwa Bali masih dianggap kotor. Maka kami terus mencari solusi masalah-masalah,” tuturnya.

Menurut dia, ada pemikiran bahwa akan dibuat transportasi dengan jalur khusus seperti yang ada di Jakarta, sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan yang akan semakin parah. Pada prinsipnya Pemerintah Provinsi Bali, akan terus berupaya menjaga agar pariwisata di Bali tetap kondusif. ***