Industri Petrokimia Semakin Kompetitif

14
Infoblora.com

JAKARTA-Pemerintah mendorong Industri Petrokimia menjadi salah satu industri hilir migas masa depan sebagai upaya peningkatan bisnis. Dorongan itu diperlukan mengingat semakin kompetitifnya persaingan industri di semua sektor yang menuntut sektor energi melakukan penyesuaian dan inovasi, salah satunya industri migas.

“Minyak dan gas masih penting, masa depan adalah petrokimia. Minyaknya dimanfaatkan untuk petrokimia, banyak turunan yang bisa dibuat dari minyak (bumi) tersebut,” kata Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Jakarta, Sabtu, (19/10/2019).

Perubahan sudut pandang ini, menurut Jonan, dalam pengelolaan dan pemanfaatan migas demi meningkatkan dampak multiplier output perekonomian nasional. Terlebih selama ini migas lebih dimandatkan sebagai bahan bakar kendaraan, bukan sebagai bahan baku petrokimia. “Kultur kegiatan migas ini harus di-adjust,” tegasnya.

Ketergantungan banyak usaha terhadap olahan migas, menurut Jonan, membuat industri petrokimia masih memiliki masa depan yang lebih cerah. Apalagi Pemerintah sudah menugaskan kepada Pertamina untuk membangun refinery atau kilang pengolahan minyak bumi menjadi petrokimia. “Mau tau mau, suka tak suka, midstream ke depan pasarnya petrokimia,” tuturnya.

Saat ini, kapasitas pengolahan petrokimia Pertamina hanya sebesar 700 kiloton per annum (ktpa). Akan tetapi, kapasitasnya akan bertambah secara bertahap seiring hadirnya dua kilang baru, yaitu Tuban dan Bontang, serta empat kilang eksisting hasil revitalisasi (kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan dan Dumai). Jika sudah rampung 2026 produksi Petrokimia Pertamina ditargetkan bisa mencapai sekitar 6.600 ktpa.

Sebagai regulator, Jonan mengungkapkan keterbukaan Pemerintah terhadap segala masukan konstruktif terhadap pengembangan industri migas.”Pemerintah sendiri menerima masukan apa saja yang harus diperbaiki supaya industri ini tumbuh dengan baik. Yang lebih penting lagi ini supaya fairness-nya ada,” pungkas Jonan.