Industri Tekstil dan Alas Kaki Sumbang Devisa USD 19 Miliar

11
devisa
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono pada pembukaan Pameran Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Tahun 2019 di Jakarta

JAKARTA-Industri tekstil, kulit dan alas kaki merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara yang cukup signfikan, salah satunya melalui capaian nilai ekspor pada tahun 2018 sebesar USD18,96 miliar atau berkontribusi hingga 10,52% dari total ekspor nasional. Selain itu, sektor yang tergolong padat karya tersebut, telah menyerap tenaga kerja sebanyak 4,65 juta orang.

“Industri tekstil, kulit dan alas kaki menjadi sektor yang tertua di Indonesia, yang telah mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir, dan produknya memberikan kontribusi nomor tiga dari seluruh komoditas ekspor kita,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono pada pembukaan Pameran Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Tahun 2019 di Jakarta.

Adanya potensi tersebut, membuat Kemenperin memprioritaskan pengembangan daya saing terhadap industri tekstil, kulit dan alas kaki. Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan pakaian dipilih sebagai sektor pionir dalam penerapan industri 4.0 di Tanah Air.

Sekjen Kemenperin menyampaikan, pemerintah saat ini sedang fokus memacu ekspor dari sektor industri manufaktur. Hal ini guna memperkuat struktur perekonomian nasional.

“Saat ini kita punya industri hulu yang menghasilkan polyester dan rayon, yang dapat menopang kebutuhan bahan baku industri tekstil. Ini bisa mengoptimalkan produktivitas dan menjadi lebih kompetitif,” tuturnya.

Guna menggenjot daya saing industri tekstil, kulit dan alas kaki di dalam negeri, Kemenperin juga telah berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Misalnya melalui peluncuran kegiatan pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri serta program Diklat 3 in 1.

“Selain itu, seiring dengan implementasi industri 4.0, kami juga mendorong pelaku industri kita agar dapat memanfaatkan teknologi modern. Karena dengan restrukturisasi mesin dan peralatan, produksi bisa menjadi lebih efisien,” paparnya.

Di samping itu, dalam upaya memperluas akses pasar ke kancah global, Kemenperin telah memfasilitasi sejumlah pelaku industri dalam negeri untuk ikut serta dalam ajang pameran baik yang skala nasional maupun internasional.

“Jadi, partisipasi di kegiatan pameran yang bersifat teknis dan masif, juga perlu didukung oleh seluruh stakeholder terkait,” ujarnya.