Investor Negara Maju di Asia Paling Pesimis

52

JAKARTA- Survey Manulife Investor Sentiment Index di Asia (Manulife ISI) terhadap 3.500 responden di tujuh pasar Asia1 ini menunjukkan bahwa investor di pasar negara maju di Asia masih merasa kurang percaya bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi. Bahkan Hong Kong dan Taiwan tercatat sebagai negara yang paling pesimistis. Namun, hal ini berlawanan dengan tingkat kepercayaan para investor di negara berkembang di Asia seperti Indonesia dan Malaysia serta negara maju seperti Kanada dan Amerika Serikat. ”Dari sudung pandang investasi, tidak ada tempat yang lebih menarik dibandingkan Asia sekarang ini. Terdapat begitu banyak peluang di seluruh wilayah Asia untuk mereka yang ingin berinvestasi guna meraih tujuan hidup mereka. Untuk dapat membantu mereka, sangat penting bagi kami untuk memahami apa yang mereka butuhkan,” ujar Presiden dan CEO Manulife Asia  Robert A. Cook, di Jakarta, Selasa (2/4).

Menurut survei, para investor Indonesia merupakan kelompok yang paling optimistis terhadap kondisi investasi dibandingkan dengan para investor lainnya di Asia. Secara keseluruhan nilai indeks Manulife ISI Indonesia adalah +54, lebih tinggi dibandingkan nilai indeks rata-rata regional sebesar +17.

Dibandingkan dengan kelas aset lainnya, investor Indonesia paling pesimistis terhadap saham dan ekuitas dengan nilai indeks -8 karena mereka masih mengandalkan dana tunai atau properti sebagai instrumen investasi mereka.

Alasan utama penyebab para investor Indonesia percaya bahwa saat ini merupakan waktu yang kurang baik untuk berinvestasi di saham/ekuitas adalah “pasarnya yang tidak stabil dan keyakinan bahwa investasi lainnya dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi”. Ini berarti, para investor di Indonesia lebih memilih instrumen investasi yang berisiko lebih rendah dan memiliki pengetahuan yang minim mengenai saham/ekuitas. Padahal pada kenyataannya Indeks Harga Saham Gabungan terus bertumbuh dengan kuat dari tahun ke tahun yang menunjukkan kondisi pasar yang baik. “Ada kesenjangan antara optimisme mereka terhadap tujuan keuangan dan pensiun dengan perilaku investasi mereka. Kesadaran mereka terhadap investasi tinggi namun membutuhkan langkah yang konkret dan bimbingan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan produk investasi untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang mereka,” kata Chris Bendl CEO & Presiden Director Manulife Indonesia.

“Kami merekomendasikan para investor untuk mempertimbangkan instrumen investasi selain dana tunai dan properti yang dapat memberikan keuntungan lebih tinggi dan dapat memenuhi tujuan keuangan mereka,” pungkas dia.