IRD Rawan Tembus 9.900 per USD

31

JAKARTA-Pasar Asia kemungkinan masih akan menguat pada Rabu (29/5) mengikuti kenaikan indkes global semalam. Namun untuk IDR masih rawan pelemahan dan kemungkinan bisa menembus Rp.9.900 per USD kendati penutupan kemungkinan berkisar antara Rp.9.830-Rp.9.880 per USD.

Analisa valas PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan pelemahan, ditutup di Rp.9.862 per USD (kurs tengah Bloomberg) sedangkan yen melemah kembali ke 102,19 per USD. Pelemahan yen juga menjadi alas an penguatan sebagian besar bursa Asia termasuk bursa Indonesia (IHSG).

IHSG ditutup naik ke 5.176,23 (+1,79%). Sedangkan bursa global utama ditutup naik. Dow mencatat rekore baru di 15.409 (+0,69%) dan imbal hasil Treasury bond 10 tahun naik menjadi 2,160% (+0,152). “Pasar Asia kemungkinan masih naik didukung mengikuti penguatan di bursa global semalam, dan didukung indeks futurenya yang positif. Untuk IDR kemungkinan masih berpotensi melemah jika yen melanjutkan pelemahan. Namun level IDR saat ini cukup rawan dan mudah menembus Rp.9.900 per USD jika tidak dikendalikan,” jelas dia.

Menurut sia, pemerintah akan berikan stimulus untuk industry setengah jadi. Pemerintah  berencana memberikan insentif fiscal untuk barang setengah jadi untuk menekan impor barang modal dan bahan baku/penolong yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi berupa keringanan pajak.

Sebelumnya pemerintah telah memberikan tax holiday dan tax allowance untuk beberapa jenis industry dan termasuk industry di sektor hulu. Tetapi tampaknya masih belum diminati karena industri hulu juga membutuhkan infrastruktur terutama listrik yang memadai. Padahal insentif ini bisa mengurangi tekanan impor tersebut dan selanjutnya perbaikan di neraca pembayaran.

Dia menambahkan  data AS semakin meyakinkan. Keyakinan konsumen di AS meningkat ke 76,2, level tertingginya sejak Februari 2008 yang diikuti dengan harga rumah di AS yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir.

Kedua data ini bisa dianggap sebagai indikator awal (early indicators) yang bisa memastikan ekonomi AS menunjukkan perbaikan yang menguat. Keyakinan konsumen akan membuat masyarakat AS  melakukan konsumsi. Konsumsi rumah tangga menyumbang 70% dari PDB AS. Sedangkan harga rumah yang naik memungkinkan tangga memiliki wealth (kekayaan) yang menjadi pendorong konsumsi ke depan yang lebih tinggi. Perbaikan ekonomi ini menjadi alasan bagi the Fed kemungkinan mengurangi injeksi likuiditasnya dari posisi sekarang US$85 miliar per bulan seperti yang dikawatirkan investor. Namun mestinya perbaikan ekonomi AS ini juga menjadi sinyal positif terhadap dukungan fundamental dari pasar AS.