ISKA: Pancasila Sudah Sakti Sejak Lahir

26
Ketua Umum Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana/dok Benny Sabdo

JAKARTA-Pancasila sudah sakti sejak kelahirannya. Jika dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia, Pancasila menghancurkan ideologi lain yang tidak sepaham itu disebabkan karena Pancasila memang sakti, karena ia lahir ditengah kecamuk dua kutub idiologi besar saat itu, namun tetap memunculkan kemandiriannya. Pancasila tetap akan memiliki kesaktian jika bangsa Indonesia memelihara dan melaksanakan sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesaktian Pancasila akan hilang hanya ketika bangsa Indonesia tidak mencintai lagi, menggantikannya secara sadar ataupun tidak dengan nilai-nilai baru yang tidak berakar pada nilai yang digali dari tradisi Nusantara. Dan kesaktian Pancasila akan bertambah dari waktu ke waktu ketika Bangsa Indonesia terus mencintainya tanpa syarat.

Demikian ditegaskan Ketua Umum Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Muliawan Margadana dalam penjelasannya terkait dengan kelahiran dan kesaktian Pancasila di Jakarta, Selasa (31/5).

Ditegaskan Muliawan, Pancasila itu adalah satu dan tak terpisahkan dengan Bangsa Indonesia. Kelahiran bangsa Indonesia yang ditandai dengan kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga tidak bisa dipisahkan dari Pancasila. Bangsa Indonesia akan hilang tanpa Pancasila dan Pancasila akan musnah tanpa bangsa Indonesia. Yang mencintai Pancasila adalah bangsa Indonesia dan bukan bangsa lain.

Menurut Muliawan, peristiwa-peristiwa yang berusaha untuk menghancurkan dan menggantikan Pancasila dengan dasar yang lain merupakan pembuktian bahwa Pancasila tidak bisa dilepaskan dari Bangsa Indonesia dan demikian pula sebaliknya. “Pancasila itu adalah dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Ia merupakan norma tertinggi dari kehidupan bangsa Indonesia. Tidak ada norma yang lebih tinggi daripada Pancasila karena kelima silanya. Ia merupakan inti sari dari seluruh nilai-nilai budaya yang diyakini oleh para bapa bangsa, mampu serta kuat menjadi dasar bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, dan tidak hancur karena perjalanan jaman,” tegas Muliawan.

Justru karena itu, Muliawan menambahkan,  peristiwa kelam dalam berbagai dimensinya yang mengarah pada politisasi, penistaan, pelemahan, dan penghancuran Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa hendaknya menjadi pelajaran bagi rakyat Indonesia untuk tidak meletakkan Pancasila hanya sebagai hiasan dinding yang bisa diganti dengan apa saja. Upaya pelemahan ini akan terus berjalan, baik disukai atau tidak, disadari atau tidak. Cara paling efektif membubarkan  bangsa dan negara Indonesia adalah dengan menghancurkan Idiologi Pancasila. “Umat Katolik Indonesia secara sadar sudah mendapatkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa yang tak tergantikan dengan berprinsip 100% umat Katolik dan 100% warga negara Indonesia, yang didengungkan oleh Uskup Pribumi pertama, Mgr. A. Soegijapranata SJ. Oleh karena itu, seorang warga Indonesia yang beragama Katolik hingga akhir hayatnya akan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.

Muliawan Margadana kemudian menunjuk pada gerakan bersama Umat Katolik Indonesia membuat Rosario (tasbih) dengan warna bendera Indonesia yakni merah putih, yang dimaksudkan dengan rosario merah putih itu berdoa bagi Pancasila, bangsa dan negara. “Rosario merah putih merupakan bentuk fisik dari kesetiaan umat Katolik kepada Pancasila yang tidak dapat terpisahkan dari bangsa Indonesia. Doa  rosario merah putih merupakan ujud janji kesetiaan umat Katolik kepada Pancasila dihadapan Allah yang Mahakuasa,” tegas Muliawan Margadana.

Menurut Ketua Presidium ISKA itu, ada banyak cara untuk menyatakan kesetiaan bangsa, suku, agama atau ras kepada Pancasila. Sama halnya, dijelaskannya lebih lanjut, ketika rakyat berbicara soal nasionalisme. Nasionalisme yang menaungi bagi bangsa Indonesia, demikian Muliawan menjelaskan, hanya satu yakni mengakui secara sadar tanpa syarat dengan nilai, ideologi dan semangat bahwa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di Indonesia yang  bertanah air dan berbahasa Indonesia. Dalam nasionalisme yang satu tersebut tidak terbuka bagi budaya, cara pikir,  ideologi lain yang bermaksud menguasai bangsa ini sekalipun dalam nasionalisme Indonesia tumbuh dan terbangun dalam kebhinnekaan (pluralisme). Identitas diri dan karakter bangsa harus diperkuat oleh Pemerintah dan rakyat secara sengaja dan terus menerus untuk menghadapi globalisasi nilai yang dapat mengaburkan jati diri. “Nasionalisme Indonesia adalah sebuah perwujudan idiologi, nilai serta semangat yang hidup serta bertumbuh dalam kebhinnekaan atau pluralisme atas suku, agama dan budaya. Nasionalisme yang satu itu tidak memiliki arti apapun tanpa Pancasila, yang merupakan roh dari nasionalisme itu sendiri,” ujar Muliawan.

Sebagai konsekuensi, Muliawan menjelaskan lebih lanjut, dalam nasionalisme yang dihidupi atau dijiwai oleh nilai-nilai setiap sila dalam Pancasila haruslah muncul dan tumbuh praktik-praktik dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga, jika suatu praktik dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara  tidak menampakan nilai-nilai setiap sila, itu berarti bukan nasionalisme yang Pancasilais. “Itu merupakan peringatan kepada bangsa Indonesia, bahwa ada kekuatan lain yang ingin menggeser Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia, jangan berikan ruang upaya pelemahan Idiologi bangsa , majulah ayo Maju bangsa kita dengan landasan Pancasila ,” ujarnya.