Jaga Likuiditas, Bank Naikkan Suku Bunga Deposito

40

JAKARTA-Industri perbankan dipastikan menaikan suku bunga depositonya untuk menjaga arus likuiditas menyusul kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6 persen.  Langkah ini dilakukan agar nasabah tidak kabur ke instrumen investasi lainnya seperti ke dollar AS dan saham. “Prakteknya suku bunga deposito sudah naik. Apalagi deposan besar yang memiliki uang banyak, bisa menentukan suku bunga. Beda-beda tipis 25 bps, kabur dia ke bank lain,” ujar  Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Prasetiantono disela-sela uji kelayakan dan kepatutan calon anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI), di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (3/7).

Menurut dia, kenaikan harga BBM bersubsidi telah memberikan efek besar terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut menyebabkan banyak bank mengalami kesulitan dalam membendung arus dana keluar.  

Keluarnya dana ini terjadi karena nasabah menganggap bunga deposito tidak lagi menarik ditengah tingginya angka inflasi. Akhirnya banyak orang yang tarik uangnya dan dipindahkan ke instrumen investasi lainnya.

Karena itu kata dia,  untuk membendung nasabah, banyak bank yang akhirnya menaikan bunga deposito untuk menahan laju dari keluarnya dana tersebut.  Dengan kata lain, kenaikan suku bunga deposito bank mendahului suku bunga acuan atau BI Rate. “Secara riil banyak bank yang sudah menetapkan bunga deposito di atas BI rate atau Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) rate,” ungkap Tony.

Bagi nasabah, kata Tony, tidak ada urusan dengan LPS karena uang yang dimiliki LPS hanya sebesar 30 triliun rupiah. Sementara total aset perbankan mencapai 4.300 triliun rupiah.  “Andaikan 1 bank besar bangkrut dengan aset ratusan triliun rupiah, LPS juga nggak bisa apa-apa.  Sekarang, bagi nasabah, banknya bisa dipercaya atau tidak,” tegas dia.

Bagi perbankan,  kata dia, menaikan suku bunga deposito jauh lebih baik dibanding menaikan suku bunga kredit demi menjaga likuiditasnya.  Tetapi kenaikan suku  bunga deposito ini tidak akan bertahan lama karena perbankan juga perlu menjaga keseimbangan LDRnya. “Jadi, perhitungan bank itu tidak hanya sekedar margin. Kalau margin tinggi, kreditnya nggak ekspansif, tidak dapat uang juga,” jelas dia.

Karena itu kata dia, perlu ada keseimbangan antara ekspansi kredit, margin, BOPO. Semua harus saling mendukung. “Kalau hanya mengejar NIM, tetapi landingnya nggak jalan, nggak dapat keuntungan juga,” tutur dia.

Dia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan tidak selamanya direspon perbankan dengan kenaikan suku bunga kredit karena itu akan merugikan bank sendiri. Sebab, kalau suku bunga kredit naik yang jebol justru di NPL. “Sekarang, NPL perbankan kita sedang bagus-bagusnya sekitar 2,3 persen secara nasional. Kalau ngejar NIM,  lalu NPL naik ya sama saja bohong. Jadi, memang uniknya bank itu memainkan semua indikator yang ujung-ujungnya mencari laba,” tutur dia.