Johan Budi: Presiden Belum Ambil Keputusan Soal Blok Masela

Johan Budi: Presiden Belum Ambil Keputusan Soal Blok Masela

0
BERBAGI
-Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Prabowo

JAKARTA-Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Prabowo, menegaskan Presiden Joko Widodo belum mengambil keputusan apapun terkait metode pembangunan Blok Masela apakah off shore atau on shore.

Pernyataan itu disampaikan Johan Budi menanggapi pemberitaan di sejumlah media massa, Senin (22/2),  bahwa pemerintah Indonesia akan mengembangkan lapangan abadi Blok Masela dengan skenario pembangunan kilang LNG di darat (onshore). “Presiden masih mengkaji Seluruh aspek Proyek Masela. Mengingat besarnya skala dan kompleksitas proyek gas Blok Masela, keputusan harus dibuat dengan sangat berhati,” kata Johan Budi melalui siaran tertulisnya Selasa (23/2).

Johan Budi memastikan Presiden Jokowi mempertimbangkan banyak aspek sebelum memutuskan model pengelolaan Blok Masela. Aspek yang diperhatikan itu tidak hanya aspek komersial dan teknis, tetapi juga aspek sosial, kultur, ekonomi, sampai dengan pengembangan kawasan setempat. “Pada saat ini, Presiden sudah mendengar berbagai masukan.  Dan sudah memahami argumen argumen dari berbagai pihak, baik yang berpendapat membangun kilang di laut maupun membangun kilang di darat,” terang Johan.

Menurutnya, perhatian utama Presiden adalah bagaimana masyarakat Maluku Selatan dan Maluku keseluruhan memperoleh manfaat secara maksimal, dari keberadaan proyek gas Masela tersebut. “Tetapi tentu juga memberi manfaat yang maksimal bagi negara,” ujarnya.

Berdasarkan kajian Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Maritim dan Sumber Daya, biaya pembangunan kilang darat (onshore) sekitar 16 miliar dollar AS. Sedangkan jika dibangun kilang apung di laut (offshore), biayanya mencapai 22 miliar dollar AS. Dengan demikian, kilang di darat  6 miliar dollar AS lebih murah dibandingkan dengan kilang di laut.

Namun prakiraan angka dari Kemenko Kemaritiman dan Sumber Daya itu sangat berbeda dengan perkiraan biaya dari Inpex dan Shell, yang akan mengembangkan proyek gas Blok Masela. Mereka memperkirakan, pembangunan kilang offshore hanya 14,8 miliar dollar AS. Sedangkan pembangunan kilang di darat, mencapai 19,3 miliar dollar AS.

Dalam kaitan ini, Pemerintah Indonesia bersikap hati-hati. Pemerintah juga belajar dari pengalaman pembangunan kilang offshore di Prelude, Australia, yang mengalami keterlambatan dan pembengkakan biaya cukup besar. Prelude telah menghabiskan biaya 12,6 miliar dollar AS. Padahal kapasitasnya hanya 3,6 juta ton/tahun, 48% dari Kapasitas Masela (7,5 juta ton/tahun).