Jokowi : Elit Politik Tak Bisa Bedakan Kritik dan Sindiran

34
Presiden Joko Widodo

JAKARTA-Presiden Joko Widodo menyesalkan sikap masyarakat akhir-akhir ini yang tidak lagi bisa membedakan antara kritik dengan menghina, bahkan makar. Karena tak lagi bisa membedakan akibatnya energi masyarakat habis untuk membangun dan mewujudkan cita-cita yang besar.
Penegasan disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sekaligus HUT Partai Hanura ke 10 di Jakarta, Rabu (21/12) kemarin.
Munaslub Partai Hanura diselenggarakan untuk memilih ketua umum baru menggantikan Jenderal Purnawirawan Wiranto yang melepas jabatannya karena berkosentrasi sebagai Menko Polhukkam. Munaslub akan memilih calon ketua umum tunggal Oesman Sapta Odang.

Presiden Jokowi mengingatkan agar semua pihak seharusnya bisa fokus paada mengatasi berbagai persoalan di negara kita. “Jangan sampai energi habis untuk hal tidak perlu. Seperti akhir-akhir ini. Orang lupa bedanya kritik dengan menghasut, kritik dengan menjelekkan. Tidak bisa bedakan mana kriitk, mana hasut. Mana kritik, mana yang makar. Tidak bisa bedakan. Padahal sudah jauh sekali. Energi masyarakat sudah habis hanya untuk itu. “Padahal beda sekali. Apalagi bedanya kritik dengan makar,” sindir Presiden Jokowi.

Acara Munaslub dan HUT ke 10 Partai Hanura juga dihadiri Presiden kelima RI yang juga Ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR yang juga Ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Wakil ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO), Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, dan sejumlah pimpinan lembaga negara serta pimpinan partai politik.
Presiden melanjutkan, karena energi masyarakat sudah habis untuk mengkritik pemerintah makahal-hal besar dilupakan. “Sehigga lupa pada strategis besar negara, lupa strategi ekonomi kita. Lupa pada strategi energi 10-20 tahun mendatang. Lupa menghadapi bonus demografi kita. Kalau tidak disiapkan, tidak dikalukasi, tidak dihitung, maka tidak bisa mencapai negara yang adil dan makmur. Lupa kraena hal-hal yang tadi dikatakan. Lupa membangun ke arah negeri kita. Karena apapun bangsa harus memiliki identitas, harus memiiki karakter,” ikata Presiden.

Presiden juga mengingatkan tentang capaian program dan tantangan yang harus dihadapi pemerintah yaitu policy atau kebijakan pemerintah, efisiensi birokrasi, serta berkaitan dengan daya saing bangsa. “Pertarungan kompetsisi ini yang hrs disiapkan,” ingat Presiden.

Sementara itu Pendiri Partai Hanura Jenderal Purnawirawan Wiranto memastikan partainya akan mendukung pemerintahan Jokowi-JK hingga akhir masa jabatannya pada 2019 mendatang. Hal itu karena adanya kesamaan sejumlah program Nawacita dan membangun revolusi mental di berbagai sektor dengan visi, misi dan program Hanur.
“Oleh karena itu ketimbang mencari yang lain..saya minta pertimbangkan kepada kader Hanura bahwa kita mendukungan pemerintah guna melanjutkan jalannya pemerintah ini,” kata Wiranto yang saat ini menjabat sebagai Menko Polhukkam.

Wiranto, ke depan nanti pengelolaan negara ini akan banyak mengalami tantangan. Sehingga membutuhkan kebersamaan.
Oleh karena itu semua ini tergantung pemimpinya, banyak sejarah bangsa-bangsa yang timbul tenggelam karena pemimpinnya. “Makanya mari kita kawal pemerintahan ini untuk menyelesaikan tugasnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wiranto sekaligus menyampaikan permohonan pengunduran sebagai Ketua umum Partai Hanura, “Pada kesempatan ini izinkan saya untuk berkonsetrasi penuh menjalankan tugas saya sebagai Menko Polhukkam. Izinkan saya secara resmi mengundurkan diri sebagai Ketua umum Partai Hanura,” katanya.
Dengan pengunduran dirinya itu, maka momen Munaslub ini akan menjadi perhelatan memilih ketua umum baru melalui Munaslub. “Saya yakin akan kedewasaan saudara semua, pemilihan akan berjalan dengan lancar,” kata Wiranto.

Lebih jauh, Wiranto mengatakan sudah 5 bulan lebih dirinya bertugas dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK. Selama itu, ia mengakui kinerja pemerintahan Jokowi-JK bekerja super cepat sehingga dirinya harus melepas jabatannya sebagai ketua umum partai agar bisa lebih konsentrasi menjalankan tugas pemerintahan.
“Saya bisa katakan pemerintahan bekerja sudah lebih cepat. Siapapun harus berlari dengan pemerintahan yang super cepat ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara, Nurdin Tampubolon mengatakan penyelenggaraan Munaslub merupakan pertama kali digelar untuk memilih ketua umum karena pengunduran diri Wiranto. “Kami yakin munaslub berjalan lancar, aman dan bermartabat. Ambil keputusan pemilihan ketua umum sekaligus rumuskan program strategis mendukung Pemerintahan Jokowi-JK,” kata Nurdin yang juga Ketua Fraksi Hanura di DPR.

Pada penyelenggaraan Munaslub ini, dihadiri sebanyak1500 peserta yang berasal dari DPD I, DPD II dari seluruh Indonesia. ***