Jokowi: Masalah SARA di Negara Kita Harus Ditiadakan

Jokowi: Masalah SARA di Negara Kita Harus Ditiadakan

14
0
BERBAGI
Presiden Joko Widodo

JAKARTA-Presiden Joko Widodo meminta kepada semua pihak agar isu yang menyangkut persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak menyebar ke daerah lain. Untuk itu, Kepala Negara menginstruksikan Kapolri untuk menindak tegas pelaku keurusuhan yang terjadi di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut)  pada Jumat, (29/7) lalu. “Saya berharap, kejadian serupa tak terulang kembali karena kekuatan Indonesia di mata dunia berada pada keragaman dan kebudayaan yang terpatri dalam bhineka tunggal ika. Karena kekuatan kita ini adalah keberagaman, kekuatan kita ini adalah perbedaan, kekuatan kita ada di situ,” ujar Presiden di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (1/8).

Menurutnya, peristiwa di Tanjungbalai seharusnya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk lebih memperkuat toleransi antarumat beragama. Ini artinya, setiap kelompok masyarakat harus bisa saling mengayomi.  “Semuanya harus mengayomi, yang mayoritas mengayomi yang minoritas, yang minoritas juga saling toleransi karena kekuatan kita ini adalah keberagaman, perbedaan, kekuatan kita ada di situ,” katanya.

Pemerintah ujarnya akan menindak tegas para pelaku kriminal yang melakukan kekerasan, perusakan, dan pembakaran rumah ibadah saat kerusuhan di Tanjungbalai. “Saya sampaikan bahwa pemerintah akan menindak tegas semua yang bertindak anarkis termasuk di dalamnya main hakim sendiri karena masalah SARA, harus betul-betul kita tiadakan,” tuturnya.

Saat ini, kata Jokowi, kondisi di Tanjungbalai telah kembali kondisif usai Kapolri mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh dan pemerintah setempat.  “Kami setiap saat sudah dilapori oleh Kapolri. Kapolri sudah saya perintahkan langsung untuk detik itu juga turun ke lapangan menyelesaikan terutama mengumpulkan tokoh-tokoh,” kata Jokowi.

Sebelumnya, Presiden menyatakan sudah saatnya menjadikan Indonesia sebagai sumber pemikiran Islam dan sumber pembelajaran Islam dunia. “Sudah saatnya Indonesia menjadi sumber pemikiran Islam dunia, menjadi sumber pembelajaran Islam dunia, negara lain harus juga melihat dan belajar Islam di Indonesia,” ujarnya.

Hal itu menurut Presiden karena Islam di Indonesia sudah seperti resep obat yang paten yakni Islam washatiyah, Islam yang moderat.

Sedangkan, kata dia, kalau dilihat negara-negara lain masih mencari-cari formula Islam yang ideal. “Oleh sebab itu saya sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang pendirian Universitas Islam Internasional,” katanya.