Jokowi: Pembebasan 4 WNI, Hasil Implementasi Pertemuan Trilateral

30

JAKARTA- Presiden Joko Widodo mengumumkan pembebasan empat Warga Negara Indonesia (WNI)  anak buah kapal (ABK) Tug Boat Henry  milik perusahaan PT Global Trans-Energy yang sebulan terakhir disekap oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Pembebasan empat WNI ini, menyusul 10 pelaut Indonesia lainnya yang sudah dilepas lebih dulu. “Akhirnya 4 ABK WNI yang disandera sejak 15 Maret lalu sudah dapat dibebaskan. Keempat WNI tersebut dalam keadaan baik,” kata Presiden Jokowi, yang didampingi oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Jakarta, Rabu (11/5).

Menurut Presiden, pembebasan sandera ini berhasil dilakukan melalui kerja sama yang baik antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Pemerintah Filipina. Ini merupakan hasil positif dari pertemuan trilateral di Yogyakarta pada 5 Mei lalu antara RI-Malaysia-Filipina. “Operasi ini adalah salah satu hasil dari implementasi semangat pertemuan tersebut,” tegasnya.

Saat ini, keempat sandera tersebut sudah berada di tangan otoritas Filipina. Mereka segera diserahterimakan kepada Pemerintah RI. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Filipina yang telah memberikan kerja sama yang sangat baik dalam dua kali pembebasan WNI kita,” terangnya.

Keempat WNI yang telah berhasil dibebaskan tersebut adalah Moch Aryani (master) asal Bekasi Timur, Jawa Barat, Loren Marinus Petrus Rumawi (chief officer) asal Sorong, Papua Barat, Dede Irfan Hilmi (second officer) asal Ciamis, Jawa Barat, dan Samsir (anak buah kapal) asal Kota Palopo, Sulawesi Selatan. “Kita sudah melakukan komunikasi dengan keluarga sandera untuk menyampaikan kondisi mereka sehat dan sudah bebas sehingga keluarga merasa tenang,” kata  Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi

Saat ini keempat WNI tersebut masih dijaga otoritas Filipina untuk menjalani pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Sulu, Filipina, untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.

Sementara itu, proses pemulangan mereka ke Indonesia masih dibahas oleh Menlu RI, Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan otoritas Filipina. “Proses pemulangan tentu secepatnya. Prosedur akan kita lalui seperti biasanya,” kata Retno.

Seperti diketahui, kapal keempat WNI ABK tersebut dibajak oleh kelompok bersenjata dari Filipina di perairan Zamboanga wilayah Malaysia pada 15 April 2016 lalu dan disandera di Sulu, Filipina.

Selain empat WNI tersebut ada enam WNI lain di dalam kapal tersebut, meskipun satu WNI tertembak, namun mereka berhasil diselamatkan patroli Malaysia dan dibawa ke Tawau, Sabah, Malaysia.

Menurut Direktur PWNI-BHI Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, dari enam WNI yang berhasil diselamatkan tersebut lima di antaranya telah dipulangkan pada April lalu, sementara satu orang yang tertembak dan dirawat di rumah sakit telah diizinkan pulang pada Rabu (11/5).

Secara terpisah, Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang berhasil membebaskan empat WNI. “Keberhasilan pemerintah mengupayakan pembebasan empat WNI harus diapresiasi,” katanya.
Dia mengatakan, pasca pembebasan 10 WNI beberapa waktu lalu, pemerintah memperbaiki koordinasi dalam upaya pembebasan empat WNI yang ditangani Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan.

Mahfudz menghargai langkah pemerintah dibawah Menkopolhukam yang telah membuktikan bahwa Indonesia bertanggung jawab penuh atas keselamatan WNI di luar negeri. “Upaya diplomasi total terhadap 10 WNI berpengaruh pada pembebasan 4 WNI ini,” ujarnya