Jokowi-Prabowo, Sosok Negarawan Sejati

Jokowi-Prabowo, Sosok Negarawan Sejati

19
0
BERBAGI

JAKARTA-Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto adalah sosok negarawan sejati.
Keduanya berbeda secara politik, tetapi bersatu ketika menyangkut urusan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karena itu jika ingin menjadi politisi yang handal, belajarlah dari kedua tokoh bangsa itu. Hal itu dikatakan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Maruarar Sirait di hadapan peserta Sekolah Pemimpin Nasional ICMI Angkatan I yang bekerja sama dengan Qodari School of Politics (QSP) di Jakarta, Jumat (9/12).
Hadir sebagai pembicara politisi Partai Golkar, M Misbhakun dan Muhammad Qodari sebagai Ketua Sekolah Politik Nasional (SPN) ICMI.

Dihadapan para peserta sekolah pemimpin nasional, Maruarar menceritakan pengalaman bagaimana menjadi anggota legislatif yang handal dan berkualitas. “Saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR dapil Subang, Majalengka, dan Sumedang. Saya berasal dari Sumatera Utara tetapi dapat diterima di dapil Jawa Barat selama tiga periode dan mendapatkan suara terbanyak” katanya.

Ara, begitu ia disapa, memberi tips kepada para peserta sekolah kepimpinan bahwa kalau menjadi politisi harus punya grass root yang kuat. “Kalau enggak punya grassroot itu namanya politisi salon,” katanya.

Ara lebih jauh mengatakan jika sudah terpilih menjadi anggota DPR atau politisi, jangan lupa merawat grass root, terutama anak muda. “Saya sendiri punya konsentrasi untuk mendekati anak muda yakni dengan membuat program olahraga, seni budaya, dan pemberdayaan ekonomi seperti membuat percetakan, dan jenis usaha lainnya,” katanya.

Sementara itu, Misbhakun mengatakan, menjadi politisi itu seperti berbalas pantun. Kalau kita menyerang orang lain, kita harus siap diserang. “Saya mengeritik habis kasus Bank Century, kemudian saya diserang dan masuk penjara selama dua tahun. Saya melawan secara hukum dan saya menang. Ini yang memperkuat mental saya,” katanya.

Pengalaman dipenjara, kata dia, tidak mengecilkan hati, malah sebaliknya menjadi pemicu untuk bangkit dan membuat pilihan. “Partai saya ingin menenggelamkan karier politik saya, ketika dipenjara. Saya melawan, tetapi saya berpikir dengan cara apa? Saya membuat pilihan yakni pindah partai. Saya masuk Partai Golkar tahun 2014 dan terpilih,” katanya.

Ketika ditanya soal suka duka menjadi anggota DPR RI, Anggota Komisi XI DPR Ini menceritakan bagaimana beratnya perjuangan masuk menjadi anggota legislatif. Apalagi pertarungan di Jawa lebih ketat dibanding luar Jawa. “Saya bandingkan dengan teman saya dari Kaltara (Kalimantan Utara) yang jumlah penduduknya hanya 600.000 orang. Sedangkan Dapil saya (Probolinggo Pasuruan) penduduknya mencapai 2,7 juta orang,” katanya. ***