JPMorgan Perlu Jelaskan Soal Perubahan Peringkat

66

JAKARTA-Langkah JPMorgan menaikkan peringkat Indonesia menjadi netral mendapat pertanyaan banyak pihak. Karena itu lembaga keuangan internasional ini harus memberikan penjelasan kepada publik. “Jangan sampai apa yang telah disampaikan menjadi sebuah cipta kondisi untuk mendapatkan keuntungan atau hal lain yang lebih besar,” kata anggota Komisi XI DPR Donny Imam Priambodo kepada wartawan di Jakarta, (16/1/2017).

Politisi Nasdem ini menambahkan pihaknya tidak tahu menahu soal analisa JPMorgan. “Saya tak bisa menyatakan bahwa JPMorgan tiba tiba menaikkan atau menurunkan, itu hak dia,” tambahnya.

Namun, Donny lagi, jika lembaga itu memberikan suatu peringkat tanpa legitimasi dari lembaga lembaga peringkat lainnya dalam arti berbeda sendiri, tentunya terjadi misleading terhadap suatu analisa. “Maka jika sekarang JPMorgan meningkatkan secara tiba tiba menjadi netral, pertanyaan selanjutnya adalah apakah JPMorgan melakukan anulir, itu harus ada penjelasan resmi dari JPMorgan,” ujarnya.

Dikatakan Donny, kalau JPMorgan memberikan peringkat lalu berbeda dengan yang lain, harusnya secara profesional memberikan klarifikasi atau penjelasan analisa. Sehingga bisa dipertanggungjawabkan bahwa hal itu kredibel. “Kalau tidak ada , bagaimana kita bisa mempercayai hal tersebut, jangan jangan dapat data dari langit, lebih repot lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya JPMorgan Chase & Co pada hari Senin (16/1/2017) telah meningkatkan peringkat saham Indonesia menjadi neutral dari sebelumnya underweight. Riset ini berubah dari riset terakhir pada November lalu.

Pemerintah Indonesia memutuskan kerja sama dengan JPMorgan setelah bank asal Amerika Serikat (AS) tersebut menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight dari sebelumnya overweight pada November lalu.

“Pencairan dan risiko volatilitas surat utang sudah lebih baik saat ini dalam pandangan kami. Volatilitas surat utang saat ini memungkinkan untuk menaikkan peringkat menjadi neutral,” tulis Tim Peneliti dalam sebuah catatan khusus seperti yang dikutip dari Reuters, Senin (16/1/2017).

Hal ini juga merujuk pada US$ 15 miliar dana asing yang cabut dari surat utang dan penanaman modal setelah pemilihan Presiden AS November lalu.

“Fundamental makro ekonomi Indonesia saat ini terbilang samgat kuat dengan potensi pertumbuhan yang tinggi dan tingkat utang yang rendah dibandingkan PDB. Asia merupakan wilayah dengan aliran surat utang terbesar,” kata Tim peneliti JPMorgan. ***