Kaderisasi PDI Perjuangan Sesuai Ideologi

40

JAKARTA-PDI Perjuangan mestinya menjadi partai pelopor untuk berani mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur dari kader internal karena kaderisasi partai nomor 4 peserta pemilu 2014 ini berjalan sesuai dengan ideologi yang jelas serta memahami nilai-nilai yang ditinggalkan Soekarno.”Kader PDI Perjuangan itu sangat militan. Dengan modal 17 kursi PDI Perjuangan di DPRD Jawa Timur selayaknya menjadi pertimbang partai mengusung kader internalnya sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur pada 2013,” ujar peneliti senior FORMAPPI, Lucius Karus di Jakarta, Jumat (22/2).

Sebelumnya, Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Wahyudi Binaryo mengatakan, PDI Perjuangan memiliki banyak kader yang bisa diandalkan, baik di jajaran birokrasi maupun politisi.
Sebut saja, politisi PDI Perjuangan, Said Abdullah yang kini menjadi anggota DPR, Wakil Walikota Surabaya, Bambang DH, Walikota Probolinggo, HM Buchori serta masih ada sejumlah nama kader potensial lainnya. “PDI Perjuangan ini gudangnya kader potensial, karena itu, tidak perlu takut mengusung kader sendiri,” kata dia.
Karena itu, PDI Perjuangan harus berani mengusung kader internal dalam perhelatan pilgub Jawa Timur ini mengingat PDI Perjuangan memiliki kader terbaik yang siap untuk menjadi pemimpin.
Berdasarkan analisa dia, kombinasi Said Abdullah-Bambang DH bisa menjadi ancaman bagi incumbernt. Kombinasi ini sudah mewakili basis utama masyarakat Jawa Timur, yakni Jawa dan Madura. “Said Abdullah dari Madura dan Bambang DH dari Jawa, jadi sudah cocok,” urai dia.
Selain itu, kombinasi Said Abdullah-HM Buchori bisa menjadi alternative bagi PDI Perjuangan. Sebab, Walikota Probolinggo ini memiliki track record yang baik di birokrasi sehingga layak mendampingi Said Abdullah. “Tetapi prinsipnya, disaat popularitas partai naik, sangatlah tepat kalau kader internal diberi kesempatan,” kata dia.
Menurut Lucius, keberanian PDI Perjuangan mengusung kader sendiri membuktikan bahwa proses kaderisasi di tubuh partai politik berjalan dengan baik. Akan tetapi kalau PDI Perjuangan masih mencomot calon dari luar partai, itu sama saja menutup peluang peningkatan karir kader sendiri di PDI Perjuangan. “Dan ini kurang menguntungkan PDI Perjuangan. Karena calon nonkader hanya memanfaatkan PDI Perjuangan sebagai kendaraan dan kemudian meninggalkan partai demi keuntungan sendiri,” ujar dia.
Padahal menjadi politisi parpol, kata dia seseorang sudah semestinya mengarahkan dirinya pada tingkat pencapaian yang lebih tinggi. Hal ini akan membuktikan bahwa menjadi kader partai sedari awal dimaksudkan agar orang berkompetisi dengan kader lain untuk mendapatkan kepercayaan partai dan publik. “Nggak ada gunanya juga bicara kaderisasi jika ternyata ujung-ujungnya partai enggan mengaprresiasi kesuksesan kadernya. Tapi malah mencomot orang lain yang hanya mengandalkan uang dan popularitas untuk jabatan politik,” tutur dia.
Dia melihat, PDI Perjuangan telah mempersiapkan kader-kader terbaik untuk menjadi pemimpin. Bahkan kata dia, PDI Perjuangan tidak kekurangan kader yang akan dicalonkan, baik untuk menjadi gubernr maupun menjadi wakil rakyat. Pasalnya, PDI Perjuangan memiliki banyak kader potensial. “Saya kira, partai yang sudah berjuang selama 40 tahun maka tidak kekurangan kader,” jelas dia.