Kang Maman: Deklarasi “Langenastran” Bangkitkan Semangat Pluralisme

38
Kang Maman: Deklarasi “Langenastran” Bangkitkan Semangat Pluralisme

YOGYAKARTA-Pengasuh Ponpes Al Mizan, Majalengka Jawa Barat yang juga Anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Maman Imanulhaq menegaskan deklarasi “Langenastran Yogyakarta Sebagai Kampung Wisata dan Budaya” merupakan ide yang sangat brilian membangkitkan semangat pluralisme dalam bungkus kebersamaan dan gotong royong.

Hal ini menjadi ‘oase’ ditengah masyarakat Indonesia yang sudah lelah akan ide-ide besar tentang pluralisme yang hanya berkutat pada tataran wacana, namun  hanya menjadi milik para pemimpin nasional atau pemimpin agama namum tidak sampai pada grass-root. “Masyarakat Indonesia harus bercermin pada Langenastran, yang panjang jalannya hanya pendek – sekitar 350 meter. Tetapi di jalan yang pendek ini, seluruh suku di Indonesia yang terwakili oleh para pelajar atau mahasiswa luar daerah yang bersekolah di Yogyakarta pernah melewati jalan ini dan menuju satu tempat yang bernama Alun-alun Selatan. Semua orang ingin mengayuh odong-odong tidak peduli, suku, agama, ras ataupun usia,” tegas kiai yang biasa disapa kang Maman ini usai dekalarasi  “LANGENASTRAN sebagai Kampung Wisata Budaya” Yogyakarta ini dilakukan di dan sekaligus bersamaan dengan peresmian Media Corner (Omah Media), “AVOCADO”, Sabtu (3/9).

Sementara tu, anggota DPRD Propinsi Banten dari PDI Perjuangan, Ananta Wahana mengatakan semua suku berhutang budi kepada Yogyakarta sebagai kota Pelajar. Yogyakarta adalah propinsi yang memiliki andil besar dalam mencerdaskan bangsa dan yang juga secara tidak langsung menyejahterakan propinsi-propinsi di Indonesia ketika para lulusan kota Pelajar ini kembali ke daerah asal.

Menurutnya, jika gagasan “Langenastran Sebagai Kampung Wisata dan Budaya” berhasil maka perlu dibuat kloning-kloning kampung wisata dan budaya di propinsi lain. “Dari kloning itu kemudian akan muncul Kampung Sister, atau Twin Kampung yang memanfaatkan jaringan para lulusan Yogyakarta,” terangnya.

Ditempat yang sama, Ketua Umum Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana menambahkan, pendeklarasian sebuah kampung kecil di dalam wilayah keraton ini diyakini akan menjadi sarana terpeliharanya kerukunan antar kampung di wilayah Keraton yang imbasnya akan sampai pada kampung-kampung di luar Keraton.  “Saya yakin gagasan ini akan menjadi gerakan bola salju. Gagasan besar selalu dimulai dari kegiatan yang kecil dan saya kira, kampung-kampung di seluruh wilayah Indonesia akan mengikuti gerak Langenastran. Alasannya adalah Yogyakarta adalah poros politik Indonesia di mana setiap gerak geriknya akan dipantau oleh daerah lain,” ujar Muliawan.

Seperti diketahui, “Langenastran Yogyakarta Sebagai Kampung Wisata Budaya” dideklarasikan oleh sesepuh dan warga setempat. Kesepuluh tokoh ini yakni Suharyanto SH, DR Y Sri Susilo, RM Hermunanto SE,  Harsya Aryo Samudro MSc, Much Dwi Pramono ST, AM Putut Prabantoro Kamashakti Wondo Amiseno MSc, KRT. Radiya Wisroyo Sumartoyo, Febrian Wisnu Adi S.Sn, MA, Noor Harsya Aryosamodro S.Sn, MA dan Rianto Hernadi SH.

Diharapkan deklarasi tersebut akan memiliki multiplier effect (multi efek)  bagi seluruh kampung yang berada di dalam beteng Kraton Yogyakarta untuk memelihara warisan budaya para leluhur yang di kelak kemudian hari, kampung-kampung yang berada di wilayah dalam Kraton Yogyakarta akan menjadi destinasi utama wisata.