Kang Sobary: Tolak Shalatkan Jenasah Menantang Firman Allah

Kang Sobary: Tolak Shalatkan Jenasah Menantang Firman Allah

616
0
BERBAGI
Budayawan Mohammad Sobary

JAKARTA-Budayawan Indonesia Mohamad Sobary mengeritik keras sikap pendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang getol mengkampanyekan tolak menshalatkan jenasah bagi warga yang tidak mendukung pasangan nomor 3 itu dalam pilgub DKI Jakarta.

Penolakan menshalatkan jenasah lantaran berbeda padangan politik itu sama saja dengan menantang Allah karena perintah menslahatkan jenasah merupakan firman Allah . “Barang siapa memilih maka dia harus bertanggungjawab atas pilihannya. Dan insya Allah kalau meninggal akan di sholatkan oleh orang yang hidup. Jangan cemas, kalau anda mati ya mati saja. Sudah tidak perlu memikirkan wudhu,” tegasnya.

Menurutnya, menyalatkan jenasah itu kewajiban orang yang hidup. “Tidak ada orang mati yang mencari mayat lainnya. Mari kita shalatkan calon penghuni kubur. Nggak ada itu. Nggak ada jenasah bangkit dari kubur dan mengajak kawannya mari kita sholatkan calon warga negara di kuburan ini,” ucap tokoh yang biasa disapa Kang Sobary itu.

Karena itu tegasnya, jika ada orang yang berbicara jangan menyalatkan jenasah karena perbedaan pandangan politik maka orang tersebut tidak mengerti soal agama Islam. “Saya tegaskan, menyalatkan jenasah itu kewajiban orang yang hidup. Bagaimana dia bisa bicara tidak menyalatkan orang yang berbeda politik. Itu dosa. Itu sama saja dia menantang Tuhan karena itu firman Tuhan. Itu perintah-perintah. Kok bisa ya kebodohan yang ditolerir. Saya kira, rasionalitas, komitmen dan keberpihakan itu penting,” terangnya.

Karena itu, Kang Sobary berharap pemilu dan pilkada sejenis harus dipandu oleh rasionalitas, hati yang bersih dan komitmen kenegaraan yang jelas. “Ini komitmen itu untuk diri kita. Kalau kita memilih pemimpin yang hanya pandai berbicara dan tidak bisa melaksanakan apa yang diucapkan maka kita akan celaka sendiri,” tegasnya.

“Dan saya minta, jangan percaya pada kata-kata kosong, kata-kata halus dalam konteks apapun itu ibarat pahit madu. Madu saja masih pahit dibanding kata-kata. Seorang yang disebut pahit madu, pasti dibelakangnya ada sebuah pengkianatan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kebaikan dari kata-kata itu tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menguji integritas seseorang. “Bagi ibu-ibu yang cenderung memilih pemimpin berdasarkan wajah yang ganteng, suara yang sopan, semua itu tidak ada relevansi. Kebaikan wajah dan kata-kata bukan bagian dari diskursus politik. Program Indonesia Mengajar itu gagal. Banyak yang resah,” tuturnya.

Dia berharap agar masyarakat menggunakan rasionalitasnya dan kesadaran spritual dalam memilih pemimpin.

Meski demikian, Kang Sobary mengaku idealnya orang Islam yang menjadi menjadi pemimpin.

Tetapi pemimpin Islam yang dibutuhkan adalah orang yang bekerja dan mengabdikan diri kepada rakyat. Atau dengan kata lain, orang yang mampu mengubah posisinya dari tuan menjadi pelayan, dari majikan menjadi babu dan jujur.

“Kalau pada akhirnya, orang yang terpilih itu Islam, tetapi  minus kesungguhan memakmurkan rakyat, apalah Islam itu masih memiliki makna,” celetuknya dengan nada tanya.

Mantan Pemred Antara ini menilai sosok Anis bukanlah seorang yang jujur.

Ketidakjujurannya terlihat dari sikapnya yang selalu berbicara tentang kemajemukan. Padahal, sebenarnya Anies anti kemajukan. Bahkan  bukan bagian dari kaum intelektual yang turut sibuk mendiskusikan pruralitas. “Dia bukan bagian dari itu. Tidak ada sejarahnya. Saya tahu, mereka yang berdiskusi itu orang-orang yang sibuk dan berdoa. Saya tahu persis karena saya terlibat didalamnya meski saya tidak diseluruh even saya hadir. Tetapi saya melek, Anies bukan apa-apa. Jadi, jangan harap dia bersikap jujur. Jujur bukan panggilan jiwanya,” pungkasnya.