Keberadaan Anak Usaha Jadi Fokus RUU BUMN

Keberadaan Anak Usaha Jadi Fokus RUU BUMN

0
BERBAGI

BATAM-Wakil Ketua Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana menegaskan pembahasan RUU BUMN sangat penting untuk mencegah hilangnya aset-aset negara. Karena banyak BUMN yang menjual asetnya tanpa persetujuan DPR. “Salah satu contohnya, PTPN di Medan, banyak asetnya yang hilang dan tidak jelas. Padahal dulu cukup banyak,” katanya “Refleksi RUU BUMN dan Mendorong Batam Menjadi Kota Industri” di Batam, Minggu (29/5/2016).

Oleh karena itu, kata anggota Fraksi Partai Demokrat, UU No 19 tahun 2013 tentang BUMN perlu segera direvisi. Alasanya UU ini sudah tidak memadai lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Disisi lain, lanjut Azam, kelemahan UU tersebut tidak mengatur soal anak perusahaan BUMN. Padahal anak BUMN itu jumlah asetnya justru lebih besar dari BUMN induknya. “Padahal, semua operasional dan asetnya tersebut selalu dikonsultasikan dengan induk BUMN, dan itu uang negara,” ucapnya.

Dengan RUU BUMN ini, menurut mantan Direksi Semen Baturaja, justru anak usaha BUMN bisa diawasi oleh DPR. Karena selama ini anak usaha BUMN sulit sekali mendapat kontrol. ” Terlebih lagi banyak saham anak perusahaan dijual dan pertanggung jawabannya keuangannya tidak jelas, sehingga banyak BUMN yang gulung tikar, collaps dan bangkrut,” terangnya.

Dia memberi contoh bagaimana nasih PT. Merpati Nusantara Airlines (MNA). Karena keberadaan UU 19/2003 belum mampu mengatasi. Makanya ditambah dengan UU No.1/2004 dan UU No.40/ 2007 yang kemudian menjadi “tree in one” untuk mengatasi masalah BUMN dan keuangan negara ini serta penyerataan modal negara (PMN), yang harus mendapat persetujuan DPR RI. “Merpati yang harusnya disuntik Rp 350 miliar, malah disuntik Rp 1 triliun. Namun tetap saja bangkrut dan tidak bisa dipertanggung jawabkan,” tegas politisi Demokrat itu. ***