Kebijakan BI Berbasis Data Riset

40
Gubernur BI, Agus D.W. Martowardojo/photo dok AFP

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) senantiasa memanfaatkan riset dalam menerapkan berbagai kebijakannya, mengingat hasil penelitian dan data yang berkualitas merupakan bagian integral dari penyusunan kebijakan bank sentral. Untuk itu, BI terus mengembangkan berbagai wadah penelitian, termasuk seminar, call for paper, dan publikasi jurnal yang terakreditasi secara internasional.

Hal tersebut disampaikan Gubernur BI, Agus D.W. Martowardojo, dalam pembukaan Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan – BEMP) yang ke-10, di Jakarta Senin (8 /8).

Konferensi BEMP tahun ini mengambil tema Mendorong Stabilitas Keuangan di tengah Pergeseran Lanskap Keuangan Global. Dalam konferensi tersebut, para peneliti dari BI maupun lembaga lainnya, baik nasional maupun internasional, mempresentasikan dan bertukar pikiran mengenai hasil penelitian mereka. Adanya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar para otoritas, peneliti dan akademisi diharapkan dapat menghasilkan masukan yang berharga bagi penyusunan kebijakan ke depan.

Di saat yang bersamaan, untuk mendukung sosialisasi kepada masyarakat yang lebih luas, BI menyelenggarakan pula pameran riset, yang dibuka untuk umum. Pameran riset mengangkat beberapa buku dan hasil penelitian yang telah disusun di BI. “Dengan pameran riset tersebut, masyarakat dapat melihat bagaimana hasil penelitian yang mendalam dijadikan dasar bagi penyusunan kebijakan BI,” ujarnya.

Masih dalam rangkaian kegiatan, Gubernur BI juga meluncurkan dua buah buku. Buku pertama berjudul “Mengupas Kebijakan Makroprudensial”, dan menandai peran bank sentral yang relatif baru berkembang. Sementara buku kedua mengangkat mengenai sejarah bank sentral di Indonesia, dan berjudul “Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Republik Indonesia”.

Peluncuran buku hari ini dihadiri oleh beberapa tokoh bangsa yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia di masa lampau dan menjadi saksi evolusi bank sentral di Indonesia, yaitu Rahmat Saleh, Arifin M. Siregar, Adrianus Mooy, Syahril Sabirin, dan Burhanuddin Abdullah. Selanjutnya, untuk mengupas lebih dalam mengenai sejarah bank sentral di Indonesia, akan diselenggarakan bedah buku “Perjuangan Mendirikan Bank Sentral di Indonesia”, pada hari Selasa, 9 Agustus 2016.