Kebijakan Ekonomi Tidak Berbasis Resources Base

61

JAKARTA- Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Eugenia Mardanugraha meminta pemerintah membuat terobosan agar menghasilkan sumber daya manusia inovatif sehingga mampu mengelola dan mengolah potensi sumber daya alam yang sangat besar. Selama ini, kemampuan sumber daya manusia dalam negeri sangat terbatas sehingga kekayaan alam melimpah ini lebih banyak dikelola asing. “Bangsa kita sangat kaya akan SDA, namun tidak mampu mengembalikan manfaat  sumber kekayaan yang dimiliki kepada rakyat. Inilah akibatnya kalau strategi pembangunan yang diciptakan tidak membangkitkan  local genuin,” kata dia di Jakarta, Selasa (2/7).

Yang terjadi kata dia, sumber kekayaan alam Indonesia semakin dikuasai oleh asing. Padahal, saat ini, Indonesia memiliki SDM berkualitas sehingga bisa mengelola kekayaan alam yang ada. Namun sayangnya, kebijakan ekonomi tidak berbasis pada resources base sehingga ketergantungan ke luar tetap berlanjut. Karena itu kata dia,  harus ada perubahan paradigma agar proses pembangunan mampu mendorong terbentuknya berbagai  keahlian yang bisa mengolah SDA dan bisa semakin memandirikan struktur ekonomi bangsa. “Potensi kita besar seperti emas, tambang, batubara dll. Tetapi, pemerintah selalu mengandalkan investasi asing. Hal ini yang menyebabkan nilai tambahnya buat Indonesia sangat kecil,” imbuh dia.

Menurut dia, tantangan ekonomi dunia ke depan sangat berat, terutama dalam menghadapi era persaingan bebas seperti AFTA, APEC dan WTO.  Karena itu, yang harus dilakukan pemerintah adalah bagaimana menciptakan  SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global. “Jika kita tidak mempersiapkan diri maka kita akan kalah bersaing dengan dengan asing. Tenaga kerja Indonesia hanya mengisi pada level rendah, sementara tenaga kerja level atas diisi oleh tenaga kerja asing. Dan ini ancaman terbesar Indonesia kedepan,” tegas dia.

Dia menilai, masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh  produktivitas tenaga kerja yang memadai. Sehingga, keberhasilan pembangunan yang dibanggakan  hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif, arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung dan bukan berasal dari kemampuan  manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi.

Lebih lanjut dia mengatakan, keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan merupakan bukti kegagalan pembangunan. “Saya kira, sudah bukan waktunya lagi membangun perekonomian dengan kekuatan asing. Tapi sudah seharusnya bangsa Indonesia  memanfaatkan potensi sumberdaya daya yang dimiliki dengan kemampuan  SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional,” tegas dia.

Sebab jelas dia, jika bangsa Indonesia tidak bisa menyesuaikan dengan tuntutan globalisasi maka hanya akan melahirkan generasi yang menjual diri bangsa dengan hanya mengandalkan  sumberdaya alam yang tak terolah dan buruh yang murah. Sehingga yang terjadi bukannya  menyelesaikan masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi, tetapi akan semakin  menciptakan ketergantungan kepada negara maju karena utang luar negeri yang semakin berlipat. “Karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan link and match mendapat tempat  sebagai sebuah strategi yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pendidikan. Kalau strategi ini tidak diciptakan maka kita akan terjebak dan semakin bergantung kepada utang luar negeri, teknologi, dan  manajemen asing,” pungkas dia.