Kebijakan Keuangan Harus Mudah Diakses Masyarakat

Kebijakan Keuangan Harus Mudah Diakses Masyarakat

0
BERBAGI

JAKARTA-Kontribusi perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sangat besar. Karena itu, perbankan diharapkan membuat kebijakan yang ikut mendorong bergeraknya usaha masyarakat. “Perlu disusun model bisnis dan visi misi perbankan yang tepat arah dalam menyasar semua lapisan masyarakat, agar mereka mudah dalam mengakses layanan keuangan,” ujar anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Muhammad Syafii Antonio, di Jakarta,  Minggu (29/8).

Dia menyakini, kebijakan perbankan yang memudahkan masyarakat mengakses pembiayaan dan keuangan, ikut mendongkrak tumbuhnya perekonomian Indonesia.
“Harapan pertumbuhan ekonomi nasional yang baik itu angkanya di atas 2 digit, bisa saja itu terealisasi dengan kontribusi perbankan,” ujarnya.

Syafii mengatakan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sudah harus menyusun peta arah kebijakan keuangan menuju itu semua.  Untuk itu, sangat penting bagi kedua instansi tersebut menyamakan visi misinya agar nantinya saling menguatkan saat menetapkan kebijakan keuangan. “Kalau arahnya sudah sama, kebijakan keuangan saling menguatkan yang berpihak untuk kemudahan akses ekonomi masyarakat, maka diharapakan tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat menurun,” tutur Syafii.

Dia mengusulkan agar kebijakan pembiayaan dan keuangan nantinya banyak mengarah ke tingkat usaha mikro dan pedesaan. Dengan begitu, kata Syafii, mampu membuat koperasi menggeliat dan pendapatan keuangan di desa meningkat. “Teknologi juga semakin berkembang sebab ditunjang dengan akses kemudahan permodalan. Begitu juga bank bisa mengalokasikan sekurangnya 5% untuk arah pendidikan kejuruan sebab banyak masyarakat kita yang masih mengenyam pendidikan formil hanya sampai tingkat SMA, bahkan SMP,” ucapnya.

Syafii juga mengingatkan mengenai sistem Financial Technology (Fintech) yang saat ini akam dikembangkan. Dia berharap agar fintech tidak diberlakukan dengan kebijakan yang berat, seperti diterapkan ke model Bank Perkreditan Rakyat (BPR). “Alasannya sebab bagaimanapun juga tidak akan dapat bisa mengambil alih peran bank,” kata Syafii.

Syafii juga ingin nantinya bila muncul kebijakan keuangan yang digodok OJK dan BI, jangan sampai justru mematikan industri keuangan di bawahnya. Pasalnya, industri jasa keuangan dan perbankan harus sama-sama saling tumbuh.

Menyangkut kategori bank konvensional dan syariah, Syafii meminta agar keduanya sama-sama dibuat kebijakan untuk bisa memperoleh keuntungan dan berkembang. “Jangan hanya terfokus pada pengembangan bank konvensional, namun bank syariah berjalan lambat,” pungkas Syafii.