KEIN: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,3% Moderat

KEIN: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,3% Moderat

33
0
BERBAGI
Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta

JAKARTA-Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai asumsi makro yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2017 cukup realistis. Kendati ekonomi dunia tengah mengalami pelambatan, namun prediksi pertumbuhan ekonomi yang berkisar 5,3 persen cukup  moderat.  Untuk mencapainya, pemerintah harus mendorong pertumbuhan industri pengolahan. “Target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 5,3 persen di tahun 2017 masih dalam kategori angka yang realistis dan moderat,” ujar Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta di  Jakarta, Minggu (21/8).

Meski demikian, Arif mengungkapkan, target pertumbuhan ekonomi yang lebih optimis sebesar 5,5% pada 2017 masih bisa diupayakan lagi. Namun dikhawatirkan bila angka pertumbuhan ekonomi 5,5% yang diajukan pemerintah justru dianggap tidak realistis jika melihat kondisi global saat ini masih belum memiliki kepastian. Hal ini akan  menurunkan kepercayaan pasar. “Dalam kajian KEIN, ekonomi Indonesia baru bisa tumbuh 7% pada tahun 2018,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 5,3% tersebut, industri pengolahan adalah prioritas yang harus dikembangkan. Sebab, dengan mengembangkan industri pengolahan akan membuat barang yang di ekspor memiliki nilai tambah. “Selain itu Information and Communication Technology, (ICT) menjadi sektor yang menarik karena mempunyai dampak langsung dan turunan bersifat jangka panjang serta dapat menjadi suatu terobosan untuk mengejar ketertinggalan,” tutur Arif.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan dari 5-5,4 persen menjadi 4,9-5,3 persen.

Menurut Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, ada tiga faktor utama yang membuat BI memangkas proyeksi pertumbuhan tersebut. ”Faktor pertama adalah indikasi dari penyesuaian fiskal yang dilakukan pemerintah dengan memotong belanja sebesar Rp 133,8 triliun,” ujarnya.

Namun, BI memandang bahwa penyesuaian fiskal memang diperlukan untuk mendukung kinerja perekonomian yang lebih sehat.

Faktor kedua, BI memandang proyeksi perekonomian dunia yang juga menurun terutama setelah Inggris melakukan referendum keluar dari Uni Eropa dan ekonomi Amerika Serikat yang tidak sekuat yang diperkirakan. ”Termasuk pertumbuhan ekonomi China yang memang kecendurangannya tidak akan tinggi,” tambahnya.

BI memandang keseluruhan tahun ini perekonomian dunia hanya berada di level 3,1 persen, sementara tahun depan tumbuh sedikit menjadi 3,2 persen dari perkiraan sebelumnya 3,3-3,4 persen.

Faktor ketiga yang dianggap bank sentral cukup berpengaruh pada penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi yakni terkait kekuatan permintaan domestik khusunya investasi swasta yang masih memerlukan waktu untuk pemulihan. “Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan akan berada di kisaran 4,9-5,3% (yoy), sedikit lebih rendah dari kisaran sebelumnya, yaitu 5,0 – 5,4% (yoy),” urainya.